Cerita Mang Oy Memberantas Korupsi, Tolak Gepokan Uang hingga Diteror Preman

Cerita Mang Oy Memberantas Korupsi, Tolak Gepokan Uang hingga Diteror Preman

Di bawah pimpinan Roy Riady SH MH atau Yang sering disapa Mang Oy dikenal sebagai sosok sederhana dan bersahaja, Kejaksaan Negeri (Kejari) Prabumulih. Foto: dokumen/sumeks.co--

Mang Oy pun membagikan pengalamannya ketika menangani kasus korupsi. Ayah tiga anak ini mengaku secara pribadi kerap kali "disodori" gepokan uang dari oknum yang mencoba melakukan suap. 

BACA JUGA:Siapkan Posko Khusus Pemantau Pemilu, Kajari Prabumulih Ingatkan Jajaran Jaga Netralitas di Tahun Politik

"Lagi-lagi profesionalitas sangat diperlukan dalam hal ini," sambungnya. Tak hanya itu, ia juga pernah didatangi preman bahkan keluarga yang sangat disayanginya juga pernah diteror.

"Pernah didatangi preman, keluarga pernah diteror dan pernah ditawarin (gepokan uang, red) tapi bukan di Prabumulih. Namun semua itu bagian dari dinamika dan tantangan memberantas kasus korupsi," jelas pria yang juga tak malu berjualan sarapan pagi di Kedai Mang Oy samping rumahnya di Jl Sukabangun II Kota Palembang. 

Setiap pagi setelah selesai salat subuh, ia memulai aktifitas dengan membuka warung sarapan pagi. Mulai dari nasi uduk, lontong sayur, laksan, burgo dan celimpungan dijual di kedai nya. 

"Sampai sekarang masih jualan. Namun beberapa hari terakhir tutup karena yang masak ayuk (Kakak perempuan, red) lagi ada urusan. Tapi hari ini, tadi pagi kebetulan buka," sebutnya.

BACA JUGA:Kajari Prabumulih Jadi JPU Dalam Sidang Dana Hibah Bawaslu

Di hari kerja Senin-Jumat, Mang Oy hanya membantu buka warung hingga pukul 06.00 WIB dan setelah itu bergegas ke Prabumulih untuk menjalankan amanah sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Prabumulih (Kajari). 

Hari libur, Sabtu dan Minggu, Mang Oy memilih jualan sarapan pagi di kedainya mulai setelah subuh hingga pukul 10.00 WIB. "Kadang pukul 08.00 WIB sudah tutup kalau sudah habis semua," ujarnya mengaku berdagang adalah salah satu cara Rasulullah untuk mendapatkan penghasilan.

Kebiasaan berdagang juga rupanya sudah menjadi pekerjaannya sejak duduk di bangku sekolah. 

"Saya pernah dagang di Jakarta jual pempek, ikut ayah dan Ibu saya sebelum akhirnya lapak orang tua kena penggusuran. Saya juga pernah jualan nasi goreng di Basuki Rahmat, jualan soto babat di pangkalan ojek Rimbah Kemuning tahun 1996/1997," sebutnya mengaku kerap terlambat datang ke sekolah karena berjualan dulu sebelum masuk sekolah.

BACA JUGA:Bakat Dagang dari Ortu, Warkop Kajari Prabumulih ini Laris Manis

Bahkan ketimbang menerima suap, ia memilih mencari penghasilan tambahan dengan berjualan kue saat musim lebaran Idul Fitri dan Idul Adha. 

"Jualan kue basah untuk lebaran, memang sudah usaha keluarga sejak tahun 1990. Saya biasanya hanya membantu memasarkan dan membantu kocok adonan. Kalau tidak ada kerjaan di rumah," ujarnya mengaku biasanya jual kue lapis legit dan maksuba.

"Bukan merasa tidak cukup dengan penghasilan dari jabatan saat ini. Namun bagi seorang laki-laki, bukan hanya memikirkan nafkah istri, melainkan ada empat yakni Ibumu, Istrimu, anakmu dan Kakak perempuanmu," jelas pria yang juga diberikan amanah sebagai Ketua Indonesia Karate-do (Inkado) Sumsel ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: