Menakar Sensitivitas Kaum Hedonis Baru

Menakar Sensitivitas Kaum Hedonis Baru

Sukirman--

Kita berasumsi apa yang dimiliki Pegawai Pajak belum tentu juga hasil korupsi, karena PNS di Lingkungan Kementerian Keuangan dari dulu apalagi sekarang memang memiliki penghasilan yang lebih besar dari PNS  lembaga lain.

Seingat saya 30 tahun lalu PNS yang berada dalam “group” Departemen Keuangan memang punya penghasilan “resmi” 9 kali lipat dari PNS di luar lingkup Departemen Keuangan. 

Sekarang apalagi, jika kementerian/Lembaga rata-rata hanya memiliki great Tukin dari 1 hingga 17,  Kementerian Keuangan memiliki great dari 1 hingga 24. 

Dan besaran tunjangan kinerja-nya pun luar biasa. Eselon 3 di kementerian Lembaga lain mungkin hanya memperoleh  tunjangan kinerja antara 6,5 hingga 9 juta, tetapi di Kemeneterian Keuangan bisa di atas 40 juta.

BACA JUGA:Ngak Perlu Beli, Ternyata Alat Kontrasepsi Ditanggung BPJS Kesehatan, Cek ke Faskes Terdekat

Besaran tunjangan kinerja di Direktorat Pajak mencapai 100 persen plus, sementara lembaga lain ada yang masih 47 persen.

Sebagai pegawai yang “rentan” terhadap penyalahgunaan kewenangan karena “bergelut” dengan uang, tentu besaran yang mereka terima dapat dimaklumi sebanding dengan resikonya.

Sampai di sini tampak tak ada persoalan. Yang menjadi masalah adalah publik menganggap apa yang mereka miliki melebihi apa yang seharusnya mereka peroleh.

Maka masalah-pun dimulai. Timbul apa yang didalam ilmu sosial disebut  kecemburuan sosial. Kecemburuan ini semakin menjadi karena keluarganya mempertontonkan kelebihan rezeki itu kehadapan publik, sementara jangankan dipertontonkan, tidak dipertontonkan-pun publik sudah mulai curiga.

BACA JUGA: 10 Rekomendasi Aplikasi Chatting Terbaik yang Membuat Komunikasi Makin Seru

Yang pertama curiga adalah tetangga dan termasuk keluarga. Dan sebetulnya kecemburuan publik ini berlaku untuk semua pegawai yang digaji negara apakah itu ASN, Polisi dan TNI  atau pegawai BUMN lainnya. 

Panggung Hedonisme Baru

Adalah sebuah fakta bahwa panggung hedonisme baru dari level  yang paling kecil atau paling miskin hingga mereka yang memiliki pendapatan (bukan gaji) berlebih terbuka lebar.

Pangung itu tak lain bernama Media Sosial.  Semua orang seakan ikut dalam pertunjukan dalam panggung ini, mulai dari kelas teri hingga kelas super kakap.

Yang disuguhkan tak lain adalah kemewahan, kebahagian, keharmonisan, kesenangan, “kecerdasan”, kesuksesan, dan lain-lain.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: