Helmi Hidayat Sebut MUI Tak Berhak Sebut Panji Gumilang Sesat, Juragan Kopi: Logika Kembalik, MUI Itu Ahlinya

Helmi Hidayat Sebut MUI Tak Berhak Sebut Panji Gumilang Sesat, Juragan Kopi: Logika Kembalik, MUI Itu Ahlinya

Dosen UIN Syarif Hidayatullah, Helmi Hidayat sebut MUI tak berhak sebut pimpinan ponpes Al Zaytun, Panji Gumilang sesat, Juragan Kopi: logika kembalik, MUI itu ahlinya. foto: @juragan kopi/sumeks.co.--

Helmi Hidayat Sebut MUI Tak Berhak Sebut Panji Gumilang Sesat, Juragan Kopi: Logika Kembalik, MUI Itu Ahlinya

SUMEKS.CO - Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Helmi Hidayat sebut MUI tak berhak menyebut Pimpinan Ponpes Al Zaytun, Panji Gumilang sesat.

Juragan kopi, alumni Al Zaytun 6 tahun menyatakan bahwa logika berpikir Helmi Hidayat itu kembalik. Sebab MUI itu ahlinya. Jadi pantas menyebut seseorang itu diduga sesat

Seperti diketahui Helmi Hidayat diberbagai kesempatan pasang badan membela pimpinan Ponpes Al Zaytun Indramayu itu.

“Tiba-tiba orang bilang dengan tafsir yang sudah beredar Panji Gumilang sesat?”, ujar Helmi dikutip dari YouTube Cokro TV.

BACA JUGA:Juragan Kopi Senang Pak Mahfud MD Turun Tangan, Alumni Al Zaytun Ini Berharap Kondisi Indonesia Kembali Normal

“Bahaya lho orang kalau sudah menuding sesat, orang ‘biasa saja’ kalau mengatakan sesat berbahaya,” cetusnya. 

“Apalagi dia berlabel ulama, dan kemudian bergerak di institusi besar. Namanya Majelis Ulama Indonesia”, cetus Helmi ditayangan wawancara itu.

Juragan Kopi atau Reza Fahlevi akhirnya menanggapi komentar Helmi Hidayat itu.

“Lho bukannya kebalik ya logikanya. ‘Kan memang sudah sepantasnya yang bisa atau mampu mengeluarkan statemen terhadap suatu perkara adalah ahlinya”, tegasnya.

BACA JUGA:Netizen Berharap Kang Anom Battle Lawan Juragan Kopi, Alumni Al Zaytun Menentang Fatwa Nyeleneh Panji Gumilang

“Dan mereka itu ahlinya, MUI adalah ahlinya. Jadi ada ahli dalam bidang masing-masing, dalam hal ini adalah dalam agama Islam”, jelasnya.

“Jadi mereka pantas mengeluarkan statemen itu. Berdasarkan ilmu yang mereka punya, berdasarkan kapasitas yang mereka punya,” papar Reza Fahlevi lagi.

“Ini ‘kan logikannya kalau seperti ini, sama saja ibaratnya dengan seperti ini: Jangankan S1, S3 aja belum pantas mengajari mahasiswa ‘kan begitu”, ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: