Pendidikan Vokasi Harus Selaras dengan Pembangunan Ekonomi

Pendidikan Vokasi Harus Selaras dengan Pembangunan Ekonomi

Pendidikan Vokasi Harus Selaras dengan Pembangunan Ekonomi.--

JAKARTA, SUMEKS.CO - Indonesia berpotensi menjadi negara maju dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Salah satu yang perlu disiapkan yakni mengoptimalkan sumber daya manusia dengan meningkatkan kemampuan dan produktivitasnya di dunia kerja

"Pendidikan vokasi diharapkan jadi tumpuan untuk mengaklselerasi pertumbuhan ekonomi tinggi yang mendorong lebih banyak penciptaan lapangan pekerjaan,"ungkap Ditjen Pendidikan vokasi, Kemendikbudristek Uuf Brajawidagda dalam keterangan persnya, baru-baru ini.

Ia menambahkan, pendidikan vokasi perlu selau relevan dengan Pembangunan ekonomi, baik sektoral semisal ada politeknik manufaktur atau kesehatan, dan bisa juga dengan Pendidikan vokasi stay relevan. Kita beri bekal para siswa fleksibel untuk mengantisipasi perkembangan zaman.

BACA JUGA:1.613 Pelamar Bersaing Rebut 2 Kuota Penjaga Tahanan Wanita Kemenkumham Sumsel

Pendidikan vokasi di Indonesia saat ini mencakup sekitar 14.000 SMK, 2.000 program studi vokasi, dan 273 Politeknik dan Akademi Komunitas, 17.000 lembaga pelatihan dan kursus.

Kehadiran lembaga vokasi ini dapat dikaitkan dengan agenda pembangunan ekonomi sehingga stay relevan dengan agenda ekonomi nasional dan daerah.

"Perlu diketahui tiga tahun terakhir Kemendikbudrsitek mencoba membuka sekat-sekat pendidikan voaksi. Lembaga kursus dan pelatihan memiliki program PKK dan PKW, di level SMK ada SMK Pusat Keunggulan dan pemadanan dukungan, hingga di peguruan tinggi vokasi ada matching fund," tambahnya.

Ada juga program lain dengan membuat ekosistem kemitraan di daerah. Jadi, Mitras DUDI mendorong pemanfataan sekat-sekat yang makin terbuka di satuan pendidikan untuk menjadi kemitraan di daerah guna menggali potensi di daerah sehingga bisa berkontibusi di daerah.

BACA JUGA:Komite IV DPD RI Dukung Perbaikan Moral Hazard Koperasi Melalui Perubahan Undang-Undang Perkoperasian

Sementara itu, diwaktu yang bersamaan Direktur segera research institute, Piter Abdullah Redjalam mengatakan untuk menjadi negara maju, Indonesia harus meningkatkan pendapatan per kapita di atas 13.000 dollar Amerika Serikat (AS) dari saat ini masih 4.000 dollar AS. 

Tidak mudah untuk meningkatkan menjadi negara maju karena dibutuhkan pertumbuhan ekonomi luar biasa. Untuk jadi negara maju butuh pertumbuhan ekonomi rata-rata 7 persen selama 10-15 tahun ke depan. Namun, potensi untuk maju itu ada karena Indonesia punya sumber daya alam, dan bonus demografi.

Agar bonus demografi mendukung pertumbuihan ekonomi,harus ada lapangan pekerjaan yang cukup, jangan terjadi ledakan pengangguran. 

Piter meyakini pendidikan vokasi yang mengutamakan skill akan mendukung pemanfaatan bonus demografi. Namun, perlu dipastikan skills yang dimiliki lulusan selaras dengan industri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: