Ketika Marja Kami Dibunuh: Renungan Seorang Syiah Indonesia
Ayatollah Ali Khamenei terbunuh dalam serangan udara besar yang dikaitkan dengan operasi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel--
Kematian seorang pemimpin bisa mengakhiri satu bab sejarah, tetapi sering membuka bab konflik yang lebih panjang.
Pertanyaan terbesar bagi umat manusia adalah: Apakah dunia akan belajar dari tragedi ini?
Ataukah kita akan kembali mengulang pola lama di mana kekuatan militer dianggap sebagai solusi bagi masalah politik?
Sebagai seorang Syiah Indonesia, saya menulis refleksi ini bukan untuk menebar kebencian.
Saya menulisnya sebagai ungkapan duka dan refleksi sejarah.
Jika benar Ayatullah Khamenei telah syahid, maka bagi kami beliau bukan sekadar tokoh politik.
Beliau adalah bagian dari rantai panjang ulama dan pemimpin yang percaya bahwa keadilan harus diperjuangkan, bahkan jika harga yang harus dibayar adalah nyawa.
Sejarah Karbala memberi satu pelajaran sederhana: kebenaran tidak selalu menang hari ini,tetapi ia selalu hidup dalam hati manusia.
Dan mungkin itulah yang paling ditakuti oleh para tiran sepanjang sejarah. Bukan senjata. Bukan tentara. Tetapi sebuah keyakinan yang tidak bisa dibunuh.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
