OJK Luncurkan Gerakan “Sumsel Anti Scam”, Warga Diminta Waspada Penipuan Digital yang Makin Marak
Maraknya penipuan digital mendorong OJK Sumsel menghadirkan gerakan Anti Scam serta sistem perlindungan konsumen melalui IASC.--
OJK Sumsel Luncurkan Gerakan “Sumsel Anti Scam”, Perkuat Perlindungan dari Penipuan Digital
PALEMBANG, SUMEKS.CO- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan resmi meluncurkan gerakan “Sumsel Anti Scam” sekaligus mensosialisasikan Indonesia Anti-Scam Center (IASC).
Ini sebagai langkah memperkuat perlindungan masyarakat dari maraknya penipuan digital. Kegiatan tersebut digelar di Kantor OJK Regional 7 Sumbagsel, Palembang, Rabu (4 Maret 2026).
Peluncuran gerakan Sumsel Anti Scam ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai modus penipuan yang semakin berkembang seiring kemajuan teknologi.
Deputi Komisioner Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan dan Pelindungan Konsumen OJK, Rizal Ramadhani, mengatakan kejahatan penipuan digital saat ini telah berkembang menjadi skema yang lebih kompleks dan terorganisir.
Menurutnya, fenomena tersebut kini dikenal sebagai “Scam Incorporation”, di mana para pelaku bekerja secara terstruktur dengan dukungan teknologi informasi yang canggih.
“Dengan sistem IT yang semakin maju, para pelaku mampu mengeruk keuntungan hingga miliaran rupiah dari para korban. Ini termasuk kejahatan kerah putih yang dilakukan secara kolaboratif,” ujar Rizal.
Ia menambahkan, dalam beberapa kasus, kejahatan tersebut bahkan diduga melibatkan pihak dalam yang memahami sistem industri keuangan.
BACA JUGA:Sumsel Siaga Hadapi Ledakan Scam Digital, Ini Langkah Polda dan OJK
BACA JUGA:Aturan OJK 2026: Batas Maksimal Cicilan Pinjol Tidak Boleh Lebih 30 Persen dari Gaji
Ribuan Laporan Scam Setiap Hari. Data nasional menunjukkan angka penipuan digital yang cukup mengkhawatirkan. Hingga saat ini, jumlah laporan terkait scam di Indonesia telah mencapai 448.442 laporan.
Dalam satu bulan saja, sekitar 30.000 laporan diterima oleh Indonesia Anti-Scam Center, atau rata-rata 1.000 laporan per hari.
Modus yang digunakan pelaku juga semakin beragam. Mulai dari investasi bodong, lowongan kerja palsu, hingga love scam yang memanfaatkan hubungan emosional korban melalui media sosial.
Rizal mencontohkan salah satu kasus di mana seorang tenaga medis menjadi korban love scam setelah dijanjikan hubungan asmara dan investasi properti. Korban akhirnya mengalami kerugian hingga belasan juta rupiah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
