Banner Pemprov

Ketika Marja Kami Dibunuh: Renungan Seorang Syiah Indonesia

Ketika Marja Kami Dibunuh: Renungan Seorang Syiah Indonesia

Ayatollah Ali Khamenei terbunuh dalam serangan udara besar yang dikaitkan dengan operasi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel--

BACA JUGA:Kapal Tanker Minyak Kena Hantam Rudal Iran, Perang Arab Makin Ngeri

BACA JUGA:KBRI Tehran Keluarkan Imbauan Darurat untuk WNI di Tengah Eskalasi Konflik Iran

Pada saat itulah saya masuk ke fase berikutnya: anger.

Bagi kami, para pengikut Syiah di berbagai belahan dunia, Ayatullah Khamenei bukan sekadar pemimpin politik sebuah negara.

Beliau adalah marja, faqih, dan simbol perlawanan terhadap dominasi global. Banyak umat Syiah yang menjadikan beliau rujukan moral, spiritual, dan politik.

Kematian beliau bukan sekadar kematian seorang kepala negara.

Ia terasa seperti sebuah gempa di dunia Syiah.

Laporan media menyebut bahwa kematiannya memicu demonstrasi dan gejolak di berbagai negara dengan populasi Syiah, dari Pakistan hingga Lebanon.  

Sebagai seorang Syiah Indonesia, saya merasakan duka itu secara personal.

Namun setelah emosi awal mereda, saya mencoba melihat peristiwa ini dengan perspektif yang lebih luas: apa arti pembunuhan seorang marja bagi dunia Islam dan bagi masa depan umat manusia?

Bagi orang luar, mungkin sulit memahami mengapa kematian seorang ulama politik di Iran bisa mengguncang hati jutaan manusia.

Jawabannya ada dalam sejarah panjang Syiah.

Sejak awal, sejarah kami adalah sejarah para pemimpin yang terbunuh.

Ali bin Abi Thalib, Imam pertama, syahid karena pedang ekstremisme.

Imam Hasan diracun.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: