Banner Pemprov

Midang Tradisi Lebaran Kayuagung yang Bikin Rindu Pulang

Midang Tradisi Lebaran Kayuagung yang Bikin Rindu Pulang

Midang morge siwe tradisi yang rutin dilaksanakan setiap Lebaran Idulfitri. Foto : Dokumen/Sumeks.Co--

Secara umum, Midang terbagi menjadi dua bentuk: Midang Begorok yang hadir dalam hajatan seperti pernikahan atau khitanan, serta Midang Bebuke yang digelar saat Lebaran dan lebih dikenal luas oleh masyarakat.

Dalam adat pernikahan Kayuagung, Midang juga menjadi bagian penting dari rangkaian perkawinan mabang handak, yakni tahap ketika kesepakatan menuju pernikahan telah dicapai. 

Pada momen ini, calon pengantin diarak bersama bujang dan gadis dari kedua keluarga untuk diperkenalkan kepada masyarakat. Ini menjadi penegasan bahwa keduanya telah berada dalam ikatan yang dijaga oleh adat dan diakui secara sosial.

BACA JUGA:Pemkab Muara Enim Antisipasi Kelangkaan LPG dan BBM Saat Libur Lebaran Idulfitri

BACA JUGA:Pemkab OKI Gelar Pasar Murah untuk Masyarakat Jelang Lebaran Idulfitri

Pada Senin, 23 Maret 2026, kemeriahan itu terasa lebih istimewa. Tradisi Midang Morge Siwe (sembilan marga) digelar di pelataran Pantai Love, tepian Sungai Komering, dan dihadiri langsung oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan, HEdward Candra, serta Bupati OKI, H Muchendi Mahzareki. Serta Forkopimda OKI.

Di tengah arus mudik, masyarakat tumpah ruah mulai dari warga lokal hingga para perantau yang pulang kampung. 

Suasana menjadi bukan sekadar perayaan, tetapi juga ruang temu bagi kenangan lama.

Dalam sambutannya, Sekda Sumsel, Edward menegaskan bahwa Midang Morge Siwe bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan warisan budaya yang terus dijaga.

BACA JUGA:Forkopimda OKI Perkuat Kesiapsiagaan Jelang Lebaran Idulfitri

BACA JUGA:Besok Diskon Tarif Tol Kayuagung - Palembang Diberlakukan Dukung Kelancaran Mobilitas Lebaran Idulfitri

“Kita bersyukur kegiatan budaya kebanggaan Midang Morge Siwe dapat terus dilaksanakan dan menjadi warisan budaya tak benda Indonesia,” katanya.

Menurutnya, kekuatan tradisi ini terletak pada nilai yang dikandungnya.

“Di dalamnya ada nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan kepada leluhur,” tambahnya.

Ia juga mendorong agar tradisi ini terus dikembangkan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: