Bukan Palembang, Pemukiman Kecil di Kaki Gunung Dempo ini Awal Misionaris Kristen Menapak di Sumsel

Bukan Palembang, Pemukiman Kecil di Kaki Gunung Dempo ini Awal Misionaris Kristen Menapak di Sumsel

Gereja Tanjung Sakti adalah Gereja pertama di Sumatera Selatan--

SUMEKS.CO - Bila melihat perkembangan Kota Palembang, mungkin banyak yang beranggapan penyebaran agama Kristen dimulai dari kota pempek itu. Namun itu salah besar. 

Ternyata pemukiman kecil di kaki Gunung Dempo ini awal mula penyebaran agama Kristen. Tanjung Sakti yang masuk wilayah administrasi Kabupaten Lahat, tempat yang pertama kali misionaris menapak itu. 

Penyebaran agama Kristen pertama kali di Sumsel dimulai di Tanjung Sakti ini, masih memiliki bukti jelas sampai saat ini. Di wilayah itu masih berdiri kokoh Gereja Santo Mikael, yang merupakan gereja tertua di Sumatera Selatan. 


suasana di dalam Gereja Tanjung Sakti Sumatera Selatan--

Bahkan, Paroki Santo Mikael Tanjung Sakti merupakan cikal bakal Keuskupan Agung Palembang. 

Dihimpun dari berbagai sumber, misionaris Jesuit P J Van Meurs SJ tiba di Tanjung Sakti tahun 1887. Kemudian Ia mendirikan sekolah untuk anak pribumi Tanjung Sakti, Keresidenan Bengkulu. 

BACA JUGA:Gereja di Eropa Banyak Dijadikan Masjid, Sayap Kanan Inggris Murka, Alasannya Justru Bikin Geram

Tanggal 15 September 1889, Pastor Meurs membabtis orang Besemah pertama, yaitu Johannes Gebak beserta keluarganya. 

Pastor Meurs wafat dan digantikan Pastor Jennisen. Desember 1896 Jennisen dibantu Bruder Jacobus Zinken membangun gereja pertama, dengan ukuran 5 x 9 meter.

Pembangunan gereja ini lantaran perkembangan umat Katolik di Tanjung Sakti begitu pesat. 

Namun, tahun 1900 terjadi gempa bumi dasyat yang menghancurkan gereja. Pastor Jennisen membangun kembali gereja lebih besar, dengan ukuran 19 x 8 meter. Gereja dengan kayu bermutu dan atap bambu itu selesai dibangun tahun 1904.

Tahun 1938 pembangunan gereja kembali dilakukan, setelah gereja lama yang sudah tua dan nyaris roboh. Gereja tersebut selesai tahun itu juga, dan masih digunakan hingga saat ini oleh umat Katolik Tanjung Sakti. 

BACA JUGA:Terbaru! Selain Gereja yang Dibeli Muhammadiyah, Menara Giralda Juga Bukti Nyata Peradaban Islam di Spanyol

Pada zaman Penjajahan Jepang, Gereja Santo Mikael perna dihentikan aktifitasnya. Sebab dialihfungsikan menjadi gudang. Setelah Jepang kalah, gereja kembali difungsikan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: