Banner Pemprov

Kiai Raja, Raja Kiai

Kiai Raja, Raja Kiai

Kiai Raja atau Raja Kiai? Refleksi Kekuasaan, Kritik, dan Tawadhu di Pesantren--

Lihat figur seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, atau KH Zainuddin Abdul Madjid. Yang dikenang bukan hanya pengaruhnya, tetapi juga kerendahan hatinya.

Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din mengingatkan bahwa salah satu penyakit ilmu adalah ujub atau kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri.

Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar tuntutan untuk menyadari keterbatasannya sendiri (Al-Ghazali, 2010). Karena itu, kerendahan hati bukan sekadar akhlak personal, melainkan syarat penting bagi keberlanjutan kepemimpinan.

Seharusnya Bagaimana?

Pertama, kiai memang harus memimpin seperti raja dalam tanggung jawab, tetapi tidak seperti raja dalam kemuliaan.

Kedua, memimpin dengan kewibawaan, bukan keangkuhan.

Ketiga, memiliki otoritas, tetapi tetap membuka ruang musyawarah.

Keempat, dihormati karena akhlaknya, bukan karena jabatannya.

Ada ungkapan yang menurut saya tepat:

"Pesantren besar tidak lahir karena kiai yang selalu merasa benar, tetapi karena kiai yang selalu mau belajar."

Dan ujian terbesar seorang kiai sering kali bukan saat memulai pesantren dari nol, melainkan ketika pesantrennya sudah besar, namanya sudah masyhur, dan semua orang memujinya.

Pada titik itulah tawadhu’ menjadi lebih sulit daripada membangun gedung.

Seseorang pernah berkata dengan nada kesal:

"Kiai, memangnya siapa?"

Lalu ia sendiri menjawab:

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait