Banner Pemprov

Kiai Raja, Raja Kiai

Kiai Raja, Raja Kiai

Kiai Raja atau Raja Kiai? Refleksi Kekuasaan, Kritik, dan Tawadhu di Pesantren--

Kelima, menjadi simbol moral

Kehidupan kiai sering menjadi teladan langsung bagi masyarakat.

Dalam tradisi Islam, keteladanan merupakan instrumen pendidikan yang paling efektif. Apa yang dilakukan seorang pemimpin sering kali lebih berpengaruh daripada apa yang dikatakannya.

Karena itu, keberadaan kiai bukan hanya sebagai pengajar ilmu, tetapi juga sebagai simbol moral bagi komunitasnya.

Sisi Negatif “Raja Kecil”

Namun, setiap bentuk kekuasaan selalu mengandung risiko.

Lord Acton (1907) mengingatkan bahwa “power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.”

Meskipun tidak dapat diterapkan secara mutlak kepada semua pemimpin, peringatan tersebut tetap relevan sebagai refleksi bahwa kekuasaan selalu membutuhkan kontrol dan koreksi.

Pertama, sulit menerima kritik

Karena terlalu lama menjadi pihak yang didengar, bukan mendengar.

Semakin lama seseorang berada di posisi puncak, semakin besar kemungkinan ia kehilangan ruang kritik yang jujur.

Orang-orang di sekitarnya sering memilih diam karena hormat, sungkan, atau takut berbeda pendapat.

Kedua, merasa paling benar

Pengalaman panjang kadang berubah menjadi keyakinan bahwa pendapatnya selalu tepat.

Pengalaman memang melahirkan kebijaksanaan. Namun, tanpa refleksi diri, pengalaman dapat berubah menjadi keyakinan bahwa tidak ada lagi yang perlu dipelajari.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait