Banner Pemprov
Pemkot Baru

Nicolas Maduro

Nicolas Maduro

Zacky Antoni-foto:doksumeksco-

Catatan Zacky Antony

CARACAS, Kota berpenduduk sekitar 3 juta jiwa, menjelang tengah malam Sabtu (3/1) mati lampu. Bukan sedang ada pemadaman bergilir, tapi itu adalah bagian dari strategi intelijen AS.

Kota dengan tingkat pembunuhan salah satu yang tertinggi di dunia itu gelap gulita. Saat itulah operasi rahasia CIA dimulai. Pukul 22.10 waktu Amerika, Presiden AS Donal Trump memberi perintah penangkapan Nicolas Maduro.

Seorang politikus berpaham sosialis yang menjadi penguasa Venezuela sejak tahun 2013. Dalam kegelapan malam itu, 150 pesawat tempur AS terbang rendah di laut Karibia dan dalam beberapa menit menguasai langit Venezuela.

Serangan dilancarkan ke sejumlah target fasilitas militer dan bandar udara pesawat tempur. Ledakan keras terdengar di beberapa titik menimbulkan kobaran api.

BACA JUGA:Komitmen HDCU 2026: Pendapatan ASN Pemprov Sumsel Utuh, Jangan Ubah Rencana Keluarga

BACA JUGA:Meriahkan HUT ke-22, Pemkab Ogan Ilir Gelar Doa Bersama Hadirkan Putra Mendiang Ustadz Taufik Hasnuri

Serangan mendadak tersebut membuat pertahanan negara pemilik cadangan minyak terbesar di dunia itu lumpuh. Rudal anti pesawat tempur sudah dihancurkan.

Jalur koordinasi militer “rusak” karena pengkhianatan di dalam pemerintahan. Tidak ada perintah membalas serangan.  Dalam situasi itulah, pasukan elit Angkatan Darat AS, Delta Force, bergerak.

Personel Delta Force turun dari helikopter dan menyerbu masuk kediaman Presiden Nicolas Maduro yang dijaga ketat militer. Sebanyak 80 pasukan pengawal Presiden Maduro ditembak mati.

Di sisi lain tidak satupun personel Delta Force yang menjadi korban. Sebuah penyergapan luar biasa dan terencana rapi. Militer AS sebelumnya sampai membuat replika kediaman Maduro guna mempelajari strategi paling tepat untuk menembus tempat persembunyian berdinding baja milik Maduro.

Serta menentukan opsi-opsi ketika penyerbuan terjadi. Penyergapan berlangsung sesuai rencana. Rentetan tembakan terjadi. Puluhan pasukan pengawal presiden tergeletak tak bernyawa. Sebagian adalah militer Kuba yang turut membantu pengawalan Nicolas Maduro.

Kuba dan Venezuela adalah dua negara di Amerika yang sama-sama “kiri”. Maduro dan istri, Cilia Flores yang menyadari kediamannya telah diserbu mencoba lari ke tempat persenyumbunyian berdinding baja.

Tapi Langkah penyelamatan itu sudah diperhitungkan Delta Force. Presiden berusia 63 tahun itu berhasil dibekuk sebelum sempat masuk ke ruang persembunyian anti tembakan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: