Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa hasil akhir pemilu masih dapat berubah selama penghitungan suara berlangsung.
BACA JUGA:Hamas Siap Gantung Senjata, Israel Serang Warga Gaza, 13 Orang Tewas
BACA JUGA:Kesepakatan Tercapai, Hamas Gantung Senjata, Israel Mundur dari Gaza
Menurut Reuters, hasil akhir pemilu baru dapat diketahui dalam beberapa hari. Direktur Israel Democracy Institute, Yohanan Plesner, menilai proyeksi tersebut menunjukkan kemunduran besar bagi koalisi Netanyahu.
Sebab, koalisi yang sebelumnya menguasai 68 kursi di parlemen diproyeksikan hanya memperoleh sekitar 50 kursi. Namun, Plesner juga mengingatkan bahwa Eisenkot belum dapat disebut sebagai pemenang karena belum memiliki dukungan mayoritas. Ia mengatakan bahwa situasi masih dapat berubah ketika penghitungan suara selesai.
Pemilu Israel siapa menang? Oposisi belum tentu berkuasa
Meskipun unggul dalam hasil hitung cepat, Eisenkot belum tentu menjadi perdana menteri Israel berikutnya. Sistem parlementer Israel mengharuskan calon pemimpin pemerintahan memperoleh dukungan sedikitnya 61 anggota Knesset.
BACA JUGA:10 Negara Eropa-Barat Larang 2 Menteri Israel Masuk Wilayahnya
BACA JUGA:Netanyahu Dikritik Mantan PM Israel, ini Penyebabnya
Tidak ada satu partai pun dalam sejarah Israel yang berhasil memperoleh 61 kursi sendirian.
Karena itu, pembentukan koalisi menjadi faktor penentu setelah pemungutan suara. Dalam pemilu kali ini, posisi partai-partai Arab menjadi sangat penting.
Kelompok partai tersebut diproyeksikan memperoleh 18 kursi, yang dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan antara blok Netanyahu dan oposisi.
Namun, Eisenkot sebelumnya hampir sepenuhnya menutup kemungkinan membentuk pemerintahan bersama partai-partai Arab.
BACA JUGA:Ribuan Warga di Beberapa Kota di Israel Demo Netanyahu
BACA JUGA:Hubungan Washington-Tel Aviv Memanas, Trump Ingin Ganti PM Israel
Sikap tersebut membuat jalannya menuju kursi perdana menteri menjadi lebih sulit.