Menggugat Takdir Perempuan: Roehana Koeddoes

Jumat 20-02-2026,11:20 WIB
Reporter : Tri
Editor : Tri

SUMEKS.CO - Takdir perempuan pada awal abad ke dua puluh bukanlah sesuatu yang turun dari langit. Takdir itu disusun rapi oleh adat, dipertegas oleh kolonialisme, lalu diwariskan sebagai kewajaran. Perempuan boleh hidup terhormat, tetapi tidak bebas. Dalam ruang sempit itulah penolakan terhadap kepasrahan digugat oleh Roehana Koeddoes. Ketertinggalan perempuan dibaca bukan sebagai kekurangan kemampuan, melainkan kekurangan kesempatan. Gugatan kemudian lahir dari kemampuan membaca ketidakadilan sebagai konstruksi sosial, bukan sebagai nasib. 

Kemenkomdigi Meutya Hafid  ketika membuka Diskusi 3 Wajah Roehana Koddoes menegaskan bahwa Roehanna Koeddos menjadi pionir yang membuat kita semua --perempuan --red harus terus dari semangat yang telah dilakukan Roehana Koeddoes. Ketika sekolah Amai Setia yang didirikan oleh Roehana Koeddoes pada 1911, langkah tersebut bukan sekadar aktivitas sosial. Intervensi terhadap struktur justru sedang berlangsung.

Menkomdigi Meutia Hafid.-foto:doksumeksco-

Sekolah itu mengajarkan keterampilan, membaca, menulis, dan membentuk daya pikir. Bukan hanya menjahit atau mengurus rumah tangga, tetapi membangun kesadaran. Dari situ kemudian perempuan memiliki pendidikan dan dianggap ancaman bagi tatanan yang menghendaki ketergantungan.Perlawanan tidak dilakukan dengan gaduh, melainkan dengan konsistensi yang menggerogoti fondasi pembatasan yang selama ini dianggap wajar.Di titik inilah gugatan bermula.

Gugatan semakin terang ketika surat kabar Sunting Melayu didirikan pada 1912. Pada masa itu, menjadi jurnalis sudah merupakan posisi strategis, terlebih bagi perempuan pribumi. Media adalah ruang produksi makna. Siapa yang menulis, menentukan arah wacana. Melalui Sunting Melayu, suara perempuan tidak lagi berhenti di ruang kelas, tetapi bergerak ke ruang publik yang lebih luas.

BACA JUGA:3 Wajah Roehana Koeddoes dan Pemikiran Penting, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia

BACA JUGA: Roehana Koeddoes: Perempuan Pertama dalam Jurnalisme, Ironis dengan Legacy Pemikiran Visioner


Diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes di Jakarta.-foto:doksumeksco-

Dalam sebuah penggalan film dokumenter yang diadakan oleh IDN Times, Yayasan Amai Setia dan FJPI, Roehana Koeddoes menyatakan, “Kita khitmatkanlah sunting melayu sebagai suatu benih tanaman yang kelak dibelakang hari akan menjadi pohon penghasil buahbuahan yang amat lezat cita rasanya, akan melepaskan lapar dan haus anak cucu kita.” Metafora benih dan pohon tersebut bukan sekadar bahasa puitis. Di dalamnya terkandung strategi sejarah. Perubahan tidak selalu meledak dalam satu generasi. Perubahan ditanam, dirawat, dan dibiarkan tumbuh dalam kerja yang sunyi.

Benih itu adalah literasi. Benih itu adalah keberanian berpikir. Benih itu adalah kesadaran bahwa perempuan berhak menulis dirinya sendiri. Setiap tulisan atau berita yang dimuat dalam Sunting Melayu menjadi bentuk penolakan terhadap takdir yang dipaksakan. Ketika perempuan menulis, posisi berubah dari objek menjadi subjek.

Perlawanan yang dilakukan tidak menggunakan senjata, tidak memimpin demonstrasi besar, dan tidak berpidato dengan api yang membakar massa. Gugatan hadir dalam bentuk yang tenang, sistematis, dan konsisten. Di situlah letak kekuatannya. Perlawanan yang yang tidak berisik sering kali lebih bertahan lama. Perubahan menyusup ke dalam pikiran, mengubah cara pandang, lalu perlahan menggeser batas.

Namun persoalan lain mengemuka di era new media. Mengapa nama Roehana Koeddoes tidak sekuat tokoh perempuan lain dalam narasi nasional? Padahal, jika ditelisik lebih jauh, gugatan tersebut sangat modern, melampaui pikiran dan tak lengkang hingga saat ini. Perjuangan tidak hanya menyentuh akses pendidikan, tetapi juga hak atas produksi pengetahuan. Pembebasan tidak berhenti pada pengentasan kebodohan, tetapi menyasar kemampuan untuk bersuara. Di era ketika media sosial dipenuhi suara perempuan dan jurnalis perempuan berdiri di garis depan pemberitaan, jejak Sunting Melayu terasa seperti akar yang telah lama tertanam.

BACA JUGA:Bedah Isu Kekerasan Berbasis Gender Online, FJPI Sumsel Hadirkan Ratu Tenny Leriva

BACA JUGA:Gelorakan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan: FJPI Sumsel Siap Gelar Workshop KBGO

Kategori :