Roehana Koeddoes: Perempuan Pertama dalam Jurnalisme, Ironis dengan Legacy Pemikiran Visioner
Ironis dan legacy Roehana Koeddoes, Jurnalis Perempuan Pertama.-foto:doksumeksco-
SUMEKS.CO - Di tengah ruang publik yang masih menyisakan batas bagi perempuan—dari dunia pers yang belum sepenuhnya inklusif, pendidikan yang belum merata, hingga perjuangan kemandirian ekonomi yang terus berliku—jejak Roehana Koeddoes terasa semakin lantang.
Seratus tahun lalu, ia sudah menulis ketika suara perempuan dibungkam, mendidik saat belajar dipagari, dan menyalakan semangat kemandirian di tengah belenggu adat dan kolonialisme. Dialah jurnalis perempuan pertama Indonesia menjadikan pers, pendidikan, dan ekonomi sebagai senjata untuk membuka ruang perempuan di masa lalu—dan tetap relevan bagi perjuangan perempuan hari ini.
Dalam diskusi dan pemutaran film ‘3 Wajah Roehana Koeddoes’ kolaborasi FJPI dan IDN Times serta Yayasan Amai Setia, 6 Februari 2026 di Jakarta, terungkap perjuangan yang digaungkan itu ternyata masih terus harus diperjuangan oleh jurnalis perempuan di era new media.
Film Roehana Koeddoes mengisahkan perjuangan awal dan latar belakang keluarga penulis berkeinginan kuat mencerdaskan kaum perempuan di tanah minang melalui tulisan.
BACA JUGA:Bedah Isu Kekerasan Berbasis Gender Online, FJPI Sumsel Hadirkan Ratu Tenny Leriva
BACA JUGA:Gelorakan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan: FJPI Sumsel Siap Gelar Workshop KBGO
Langkah penting jurnalistik Roehana adalah saat mendapat kesempatan menulis pemikirannya di surat kabar Soenting Melajoe pada 1912. Rupanya tulisan pertama Roehana Koeddoes menjadi tonggak penting dalam sejarah pers Indonesia, khususnya jurnalis perempuan.
Media ini bukan sekadar surat kabar perempuan dan memberikan tempat bagi perempuan zaman itu untuk berpikir, berpendapat, dan membaca realitas sosial dari sudut pandang mereka sendiri. Roehana memaknainya bukan sebagai hasil namun secara visioner menempatkanya “suatu benih tanaman yang kelak dibelakang hari akan menjadi pohon penghasil buah buahan yang amat lezat cita rasanya, akan melepaskan lapar dan haus anak cucu kita.
Di tangan Roehana, jurnalistik bukan hanya profesi, melainkan alat menggugah kesadaran. Di sinilah wajah pertama Roehana terlihat: jurnalis yang bekerja tenang, tetapi konsisten. Tulisan-tulisannya tidak mengajak memberontak secara terbuka, namun perlahan menggeser cara pandang. Roehana memahami bahwa perubahan sosial tidak selalu lahir dari benturan keras, melainkan dari kebiasaan membaca, berpikir, dan mempertanyakan. Kerja jurnalistiknya menjadi fondasi kesadaran, bukan sekadar arsip sejarah.
Namun Roehana tidak berhenti pada teks. Ia sadar, gagasan yang hanya berhenti di halaman koran berisiko menjadi wacana elitis. Maka lahirlah wajah kedua Roehana: pendidik dan penggerak perempuan. Seperti sampaikan Ketua Yayasan Amai Setia, Trini Tambu, Roehana mendorong perempuan untuk belajar baca tulis, keterampilan, dan kemandirian ekonomi. Pendidikan baginya bukan sekadar transfer ilmu, tetapi jalan menuju martabat.
BACA JUGA:FJPI Sumsel Hadir sebagai Rumah Jurnalis Perempuan, Fokus pada Kesetaraan dan Profesionalisme
BACA JUGA:Ratu Dewa Siap Dukung Agenda FJPI Sumsel: Wujudkan Jurnalisme Inklusif
Di ruang-ruang belajar sederhana itu, perubahan dijalankan tanpa slogan besar. Perempuan belajar membaca, menulis, menjahit, dan berdiskusi. Hal-hal yang tampak kecil, tetapi berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari. Di sinilah kerja sunyi Roehana terasa paling nyata. Ia tidak hanya berbicara tentang emansipasi, tetapi mempraktikkannya dalam bentuk yang bisa disentuh dan dirasakan.
Wajah ketiga Roehana sering luput dibahas: aktivis kultural yang piawai membaca konteks. Roehana tidak menabrak adat Minangkabau secara membabi buta. Ia bergerak dari dalam, menegosiasikan perubahan tanpa memutus relasi sosial. Strategi ini membuat gerakannya bertahan dan diterima. Roehana memahami bahwa perubahan yang bertahan lama adalah perubahan yang berakar, bukan yang dipaksakan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

