IHSG Ambruk 8 Persen, BEI Sampai Trading Halt, Ada Apa Sebenarnya?

Kamis 29-01-2026,20:27 WIB
Reporter : Tri
Editor : Wiwik

OJK menegaskan bahwa selain trading halt, terdapat instrumen lain yang disiapkan untuk menjaga stabilitas pasar, mulai dari auto reject bawah, pelonggaran aturan buyback saham tanpa rapat umum pemegang saham, hingga komunikasi intensif dengan pelaku industri jasa keuangan. 

BACA JUGA:Saham BRI Menguat di Bursa, Warga Palembang Kian Antusias Menjadikan Investasi Sebagai Gaya Hidup

BACA JUGA:Mengejutkan, Pajak Makin Menyala Ketika Negara Punya Saham Dalam Hidup Mu

Seluruh langkah tersebut, menurut OJK, ditujukan agar pasar tetap berjalan secara teratur, wajar, dan efisien meskipun berada dalam tekanan berat.

Salah satu sentimen yang banyak disebut sebagai pemicu utama gejolak ini adalah laporan terbaru dari penyedia indeks global MSCI atau Morgan Stanley Capital International. 

Dalam laporan tersebut, Indonesia disebut tengah berada dalam pengawasan terkait sejumlah aspek pasar modal, terutama soal transparansi data, struktur kepemilikan saham, serta tingkat likuiditas beberapa emiten besar. 

Evaluasi ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi perubahan status pasar saham Indonesia dalam indeks global, yang selama ini menjadi acuan utama bagi banyak investor institusi internasional.

BACA JUGA:Jaga Momentum Ekonomi Awal Tahun, Bank Mandiri Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Lewat Kopra by Mandiri

BACA JUGA:Sinergi untuk Akselerasi, Bank Mandiri Dorong Penguatan Ekonomi Kerakyatan dan UMKM

Sentimen tersebut kemudian direspons sangat cepat oleh pasar. Dana investasi berbasis indeks yang mengacu pada MSCI disebut mulai melakukan penyesuaian portofolio. 

Aksi jual dalam volume besar pun tidak terhindarkan dan langsung menekan harga saham di hampir seluruh sektor. 

Tekanan paling terasa terjadi pada saham perbankan, energi, telekomunikasi, serta sejumlah emiten konsumer yang selama ini menjadi tulang punggung kapitalisasi pasar.

Dampaknya terlihat jelas pada indeks LQ45 yang berisi saham saham berkapitalisasi besar. Indeks ini tercatat turun lebih dari tujuh persen dalam sesi pagi, seiring banyaknya saham blue chip yang menyentuh batas penurunan harian dan masuk kategori auto reject bawah. 

BACA JUGA:Perkuat Ekonomi Kreatif, Kemenkum Babel Inisiasi Perda KI Bangka Tengah

BACA JUGA:Membangun Ekonomi Lewat Kolaborasi: Harapan Bank Sumsel Babel pada Insan Pers

Kondisi tersebut membuat perdagangan sejumlah saham unggulan terhenti secara otomatis karena sistem bursa menilai penurunan harga telah melewati ambang batas yang diperbolehkan dalam satu hari.

Kategori :