Ijazah, Sekolah, dan Sesat Logika
Ijazah Hanya Tanda Pernah Sekolah? Waspadai Sesat Logika dalam Menilai Pendidikan--
Ada satu kalimat yang belakangan cukup populer dan terdengar sangat filosofis: “Ijazah hanyalah tanda seseorang pernah sekolah. Bukan tanda bahwa ia pernah berpikir.”
Sekilas, kalimat itu terasa cerdas. Sedikit nakal, cukup provokatif, dan tentu saja menyenangkan bagi siapa pun yang pernah merasa bahwa sekolah tidak selalu menghasilkan manusia-manusia pintar.
Saya pun tidak sepenuhnya keberatan.
Kita memang banyak mengenal orang bergelar panjang yang cara berpikirnya pendek. Ada doktor yang sulit menerima kritik, profesor yang minim kebijaksanaan, bahkan pejabat berpendidikan tinggi yang keputusan-keputusannya membuat rakyat mengelus dada.
Sebaliknya, tidak sedikit orang yang pendidikan formalnya terbatas, tetapi memiliki kecerdasan, kepekaan sosial, dan kebijaksanaan luar biasa.
Namun, tunggu dulu.
Apakah karena ijazah tidak menjamin seseorang mampu berpikir, lantas ijazah menjadi tidak penting?
Di sinilah sebuah kalimat yang terdengar filosofis bisa tergelincir menjadi apa yang dalam logika disebut logical fallacy, atau sesat pikir.
Masalahnya bukan pada kritik terhadap ijazah. Masalahnya muncul ketika kritik itu dijadikan pembenaran untuk meremehkan pendidikan.
Sebab, tidak adanya jaminan bukan berarti tidak adanya manfaat. Sabuk pengaman tidak menjamin pengemudi selamat dari kecelakaan. Tetapi tentu akan terdengar konyol jika seseorang kemudian menyimpulkan bahwa sabuk pengaman tidak diperlukan.
BACA JUGA:Bung Rocky....
BACA JUGA: Rocky Gerung Masuk Wantimpres: Mengubah Kekuasaan atau Terjebak Kompromi?
Begitu pula ijazah.
Ijazah memang bukan sertifikat kecerdasan. Namun, ia merupakan salah satu bukti bahwa seseorang telah mengikuti dan menyelesaikan proses pendidikan dengan standar tertentu.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:











