Ijazah, Sekolah, dan Sesat Logika
Ijazah Hanya Tanda Pernah Sekolah? Waspadai Sesat Logika dalam Menilai Pendidikan--
Sekolah memang bukan satu-satunya tempat manusia belajar. Tetapi Sekolah tetap merupakan salah satu institusi terpenting yang dibangun peradaban untuk mewariskan, mengembangkan, dan menguji pengetahuan.
Ijazah bukan ukuran tunggal kecerdasan. Tetapi Ijazah tetap memiliki nilai sebagai bukti pencapaian pendidikan dan, dalam konteks tertentu, pemenuhan kualifikasi. Sementara kecerdasan, kebijaksanaan, integritas, dan kemampuan memimpin harus terus dibuktikan melalui tindakan.
Kita membutuhkan pemimpin yang tidak sekadar memiliki ijazah, tetapi juga memiliki kapasitas berpikir. Yang tidak hanya bangga pernah sekolah, tetapi terus bersedia belajar. Yang tidak merasa kehilangan wibawa ketika mendengarkan ilmuwan, ekonom, dokter, guru, atau rakyat biasa.
Sebab, bangsa yang maju bukan bangsa yang seluruh pemimpinnya bergelar doktor. Melainkan bangsa yang menempatkan pengetahuan sebagai dasar pengambilan keputusan dan tidak membiarkan kekuasaan merasa lebih tinggi daripada kebenaran.
Maka, barangkali sudah waktunya kita berhenti mempertentangkan ijazah dengan kecerdasan, sekolah dengan pengalaman, atau pendidikan dengan kebijaksanaan. Sebab, semua itu bisa saling melengkapi.
Dan jika kita masih ingin memperdebatkan kalimat bahwa ijazah hanyalah tanda seseorang pernah sekolah, mungkin ada satu pertanyaan yang lebih layak direnungkan:
Jika ijazah saja dianggap tidak penting karena tidak menjamin seseorang mampu berpikir, apakah kita juga akan menganggap pengetahuan tidak penting hanya karena orang berpengetahuan pun bisa melakukan kesalahan?
Jangan-jangan, yang sedang kita saksikan bukanlah kemenangan filsafat atas pendidikan. Melainkan kemenangan retorika atas logika.
Dan ketika retorika mulai menggantikan pengetahuan dalam mengelola negara, yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar selembar ijazah. Melainkan masa depan sebuah bangsa.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
