Banner Pemprov

Ijazah, Sekolah, dan Sesat Logika

Ijazah, Sekolah, dan Sesat Logika

Ijazah Hanya Tanda Pernah Sekolah? Waspadai Sesat Logika dalam Menilai Pendidikan--

Kembali pada kalimat tentang ijazah tadi. Dalam perdebatan publik, sebuah ungkapan filosofis sering kali menjadi menarik justru karena kesederhanaannya. Kalimat pendek, mudah diingat, dan terasa seperti berhasil membongkar kemapanan.

Tetapi filsafat sesungguhnya tidak berhenti pada kemampuan membuat kalimat yang terdengar cerdas.

Filsafat mengajak kita memeriksa premis, menguji hubungan sebab-akibat, dan mempertanyakan apakah kesimpulan benar-benar mengikuti argumentasinya.

Jika seseorang mengatakan bahwa ijazah bukan jaminan kecerdasan, saya setuju. Tetapi jika dari sana ia menyimpulkan bahwa ijazah tidak penting, saya akan bertanya: apakah kita mau diobati dokter yang hanya mengandalkan pengalaman menonton video operasi?

Apa kita juga akan merasa aman terbang bersama pilot yang mengaku memiliki bakat alami menerbangkan pesawat, tetapi tidak pernah menjalani pendidikan dan sertifikasi penerbangan?

Mengapa?

Karena untuk pekerjaan yang menyangkut keselamatan banyak orang, kita membutuhkan kompetensi yang dapat diuji dan dipertanggungjawabkan.

Lantas, mengapa ketika berbicara tentang kepemimpinan negara, yang menyangkut nasib ratusan juta manusia, kita justru begitu mudah meromantisasi gagasan bahwa pendidikan formal tidak penting?

Memang, demokrasi tidak harus mensyaratkan setiap pemimpin memiliki gelar akademik tinggi. Hak politik tidak boleh begitu saja ditentukan oleh panjangnya riwayat pendidikan.

Namun, demokrasi juga tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan kompetensi.

Apalagi, ijazah memiliki dimensi lain yang tidak kalah penting: kejujuran dan akuntabilitas.

Ijazah yang sah bukan hanya perkara selembar kertas. Ijazah merupakan dokumen yang menyatakan bahwa seseorang telah melalui proses belajar.

Jika keasliannya kemudian dipersoalkan, jawabannya mudah saja. Lakukan pemeriksaan fakta dan prosedur yang dapat dipercaya. Bukan dengan menggaungkan bahwa ijazah tidak penting. Sebab, pertanyaan apakah ijazah menjamin kecerdasan berbeda sama sekali dengan pertanyaan apakah seseorang benar-benar memiliki ijazah yang diklaimnya.

Mencampuradukkan keduanya justru dapat menjadi bentuk lain dari sesat logika, yakni red herring. Mengalihkan perhatian dari persoalan utama kepada persoalan lain yang terdengar relevan, tetapi sebenarnya tidak menjawab pertanyaan.

Dan kita tahu, dalam kehidupan politik, mengalihkan pertanyaan kadang jauh lebih mudah daripada menjawabnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: