Banner Pemprov

Ancaman Hoaks Deepfake 2026 Pemimpin Dunia Mengintai, Ini Cara Membedakan Video Asli dan Propaganda

Ancaman Hoaks Deepfake 2026 Pemimpin Dunia Mengintai, Ini Cara Membedakan Video Asli dan Propaganda

Ancaman Hoaks Deepfake 2026 Pemimpin Dunia Mengintai, Ini Cara Membedakan Video Asli dan Propaganda--Doc sumeks.co

SUMEKS.CO,- Memasuki awal Maret 2026, dunia dihadapkan pada ancaman baru yang semakin sulit dikenali namun berdampak sangat besar: hoaks berbasis teknologi deepfake

Jika sebelumnya disinformasi hanya berupa teks atau gambar editan, kini manipulasi telah naik level menjadi video realistis yang mampu meniru wajah, suara, bahkan ekspresi pemimpin dunia secara nyaris sempurna.

Fenomena ini bukan sekadar ancaman dunia digital biasa. Para analis keamanan global menilai deepfake kini telah berkembang menjadi senjata propaganda modern yang berpotensi memicu krisis politik, konflik militer, hingga kekacauan ekonomi.

Dengan hanya dalam hitungan jam saja, setelah video palsu tersebar luas di media sosial.

BACA JUGA:Kemenkeu Tegaskan Hoaks Isu Menkeu Purbaya Tertipu Bank Himbara

BACA JUGA:Bukan Hoaks! Motor Listrik 2026 Ada yang Lebih Murah dari HP Flagship

Dirangkum dari berbagai sumber Minggu 1 Maret 2026, Deepfake memungkinkan seseorang tampak seolah-olah mengatakan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi. 

Dalam konteks geopolitik, teknologi ini bisa digunakan untuk menciptakan video palsu seorang presiden yang mengumumkan perang, menyatakan kebijakan kontroversial, atau memberi instruksi militer.


Gambar ilustrasi ancaman Deepfake berpotensi picu perang antar negara--Doc sumeks.co

Dampaknya bisa sangat fatal, terutama jika video tersebut dipercaya publik atau bahkan pejabat negara sebelum diverifikasi.

Yang lebih berbahaya, deepfake tidak hanya berfungsi menyebarkan kebohongan, tetapi juga menciptakan keraguan terhadap kebenaran.

Ketika masyarakat mulai merasa bahwa semua video bisa saja palsu, maka kepercayaan terhadap informasi resmi pun ikut runtuh.

Dalam kondisi seperti ini, propaganda menjadi lebih mudah masuk karena publik kehilangan pegangan terhadap fakta.

BACA JUGA:Isu Penculikan di Palembang Semula Hoaks Jadi Serius, Cerita Siswi SMPN 30 Bikin Ngeri

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: