Etika Terhadap Alam Lingkungan Wujud Keimanan Manusia

Etika Terhadap Alam Lingkungan Wujud Keimanan Manusia

Dr. Syefriyeni, M.Ag.--

Ketimpangan sikap laku kita terhadap salah satunya, akan berlaku hukum sebab-akibat yang berdampak balik ke diri manusia juga.

Harus dihayati bahwa alam lingkungan mengandung unsur-unsur yang harus dibaca dengan spiritualitas atau keimanan kita. Alam lingkungan tidak semata-mata kita pahami dengan hitung-hitungan untuk mendatangkan kekayaan semata.

Namun alam lingkungan dan makhluk hidup lainnya, juga dipandang, dimengerti, dihargai, diresapi, dengan penghayatan keimanan.

Bahwa ia adalah makhluk Allah juga, yang merupakan ciptaan agung Allah. Allah menciptakan alam kosmos ini sudah dengan perhitungan dan penuh dengan keseimbangan.

Jika keseimbangan tersebut dirusak oleh manusia tanpa perhitungan dan ilmu yang terhubung dengan keimanan, bahwa disebalik alam adalah adanya Allah, maka sejatinya keimanan kita pantas untuk dipertanyakan, terutama yang telah merusak alam lingkungan tersebut.

Sekali lagi pantas untuk dipertanyakan kembali, sudahkah kita beriman. Beriman dengan maksud melihat segala ciptaan Allah dengan penuh keterhubungannya dengan Allah.

Memanfaatkan ciptaan Allah pada alam lingkungan, dengan penghargaan dan penuh keimanan. Mengerti bahwa alam lingkungan adalah proyeksi kreasi Allah yang mesti dipelihara.

Memelihara alam lingkungan, memanfaatkannya tidak berlebihan, adalah moral, akhlak, perilaku baik manusia kepada alam lingkungan, yang merupakan perwujudan dari keimanannya kepada Allah SWT.

Hari ini, jika kita saksikan dampak-dampak buruk yang mengenai manusia, asap kotor di udara misalnya, adalah akibat ulah manusia juga.

Apapun tingkah laku manusia terhadap alam lingkungan, berbalik akibatnya kepada manusia itu juga, dan keberlangsuangan hidupnya. Maka hanya si manusia yang  mushlih sajalah yang menghubungkan kesadarannya, antara ciptaan Allah, dirinya dan alam lingkungan, akan mampu menghargai dan memelihara alam.

Menghadirkan keimanan dalam kemanfaatan alam lingkungan. Hanya si manusia dengan sikap laku mushlih sajalah yang mampu melihat alam dengan keimanan, memanfaatkan alam dengan keimanan, dan dengan pemeliharaan, perhitungan, sehingga tidak berlebih-lebihan. 

BACA JUGA:Prediksi Terbaru BRIN, Cuaca Panas Mendidih Karena Fenomena El Nino Baru akan 'Menjinak' Hingga 2024?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: