Etika Terhadap Alam Lingkungan Wujud Keimanan Manusia

Etika Terhadap Alam Lingkungan Wujud Keimanan Manusia

Dr. Syefriyeni, M.Ag.--

Mushlih, adalah sifat manusia yang dijelaskan dalam al-Qur’an (terkait ayat diatas), adalah manusia yang berkesadaran alam lingkungan.

Mereka sebagai perpanjangan “tangan” Allah untuk menjaga dan memelihara, memperindah bumi ini. Buya Hamka, mengatakan bahwa tatkala manusia memiliki sikap mushlih akan melahirkan perilaku memelihara dan menjaga alam, adalah tergolong manusia yang berkesadaran akan Tuhan.

Jadi menyadari bahwa alam mesti dipelihara, termasuk bagian dari jati diri seorang mukmin yang berkesadaran tentang Tuhan. Sebaliknya jika manusia yang perusak alam, tentu ia tergolong yang belum berkesadaran kepada Tuhannya.

Karena alam ciptaan Tuhan, dan memelihara alam sebagai amanat Tuhan adalah wujud dari bagian keimanan manusia kepada Tuhan. Menjadi manusia yang amanah terhadap alam lingkungan berarti menjadi mushlih, suka memperbaiki, memelihara, dan memperindah alam. (Hamka, Tafsir al-Azhar, Jilid 7, h. 5533-5534).

Seyyed Hossein Nasr, seorang Pemikir Muslim kontemporer, sudah lama melihat adanya krisis terhadap alam lingkungan, sebagai nestapa manusia modern.

Manusia modern dengan kepintarannya, merasa unggul dari makhluk Allah lainnya. Akibatnya, ia membangun kemajuan peradaban modern, tanpa mempertenggangkan keagungan alam lingkungan ciptaan Allah.

Manusia modern, membangun peradaban modern, tanpa terhubung dengan nilai-nilai spiritualitas.

Manusia modern maju dengan cara pikir dan modernitasnya, namun gersang dari membangun keterhubungan alam dengan nilai-nilai-nilai spiritualitasnya.

Melihat alam sebagai sesuatu objek dan komoditi pasokan ekonomi yang berlebih-lebihan. Melihat alam sebagai penyedia bahan untuk melayani nafsu keinginan manusia yang berlebih-lebihan.

Semua dikerjakan tanpa menghubungkannya dan merasakannya, bahwa alam adalah milik Allah, yang mesti diagungkan, dihormati keberadaannya, bukan sebagai semata-mata penyedia kebutuhan manusia belaka.

Manusia modern sangat abai dengan menghargai alam, manusia modern sangat abai dengan sudut pandang yang humanis terhadap alam. Manusia modern tidak melihat alam sebagai keterkaitannya dengan spiritualitas. 

Ia melihat masalah alam lingkungan adalah justru ke dalam diri. Solusinya adalah kepada kesadaran diri, bahwa alam dan fenomena, terhubung dengan kesadaran spiritual.

Maka kesadaran seorang mukmin akan adanya keterhubungan antara Allah, manusia, alam lingkungan, serta makhluk hidup lainnya, adalah bukti dari seorang salik yang bertauhid.

Tentu bukti itu mengalir dan dapat dilihat pada sikap dan lakunya terhadap alam lingkungan. Bentuk apresiasi, kepedulian, dan pelestarian lingkungan sekitar kita merupakan bagian dari amalan Suluk atau Sufi. (Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man, 112). 

Manusia dan alam lingkungan serta makhluk hidup lainnya, dan seluruh isi kosmos lainnya, adalah satu integral yang saling terhubung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: