Hasil Oksigen Terlarut dalam Air Rendah, Cek Lokasi Kerambah Ikan Mati

Hasil Oksigen Terlarut dalam Air Rendah, Cek Lokasi Kerambah Ikan Mati

Petugas DLH OKI dan Dinas Perikanan saat mengecek ke lokasi kerambah warga di Kelurahan Jua-Jua, Kayuagung. --dok : sumeks.co

KAYUAGUNG, SUMEKS.CO – Ikan milik warga Kelurahan Jua-Jua dan Desa Arisan Buntal, Kecamatan Kayuagung, Ogan Komering Ilir banyak mati, ternyata karena oksigen terlarut atau Dissolved Oxygen (DO) dalam air rendah. 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Aris Panani SP MSi, mengatakan hasil penelitian menunjukan DO dalam air rendah. 

“Petugas DLH ke lokasi langsung dengan mengecek lima parameter. Yakni PH air, Dissolved Oxygen (DO) terlarut, temperatur air, kecerahan air dan sanilitas air,” kata Aris, kepada SUMEKS.CO, Kamis 22 September 2022.

Pengecekan lima parameter itu, dilakukan Rabu, 21 September siang di dua lokasi yang dilaporkan ikannya mati mendadak. Lingkungan 1 Kelurahan Jua-Jua, Kayuagung dan Desa Arisan Buntal. 

BACA JUGA:Ribuan Ikan Milik Petani Ikan Kerambah di OKI Mati Mendadak

“Masing-masing dicek dua titik," ungkap Aris. 

Dijelaskannya, dari pengecekan di dua lokasi itu dan dua titik itu sama-sama untuk DO-nya rendah. Yakni 1,6, 1,8 dan 2. Dimana semestinya nilai DO itu kurang lebih atau sama dengan 3. 

Lalu untuk PH air juga rendah. Dimana hasil pengecekan adalah PH 5 padahal sebaiknya PH air itu adalah PH 6.

"Sebenarnya petugas DLH rutin melakukan pengecekan kondisi air di Sungai Komering tepatnya di lokasi kerambah ikan warga. Jadi bukan hanya karena ada laporan ikan mati ini saja," tegasnya. 

Peperti hasil pengecekan pada April dan Juni lalu untuk DO, temperatur air dan lainnya masih bagus. Memang berbeda saat ini. Pada saat itu DO di Kelurahan Jua-jua 6,9 dan di Desa Teloko 4,8. 

BACA JUGA:Anggota TNI Kodim 04/02/OKI Bedah Dua Rumah Warga Cahaya Bumi Lempuing

Disampaikan Aris, banyak faktor penyebab banyaknya ikan mati di kerambah milik usaha warga. Yakni salah satunya bisa tanaman liar air seperti enceng gondok. Lalu bisa juga adanya sampah. 

“Apalagi sekarang ini musim hujan debit air naik, dengan begitu endapan juga ikut naik,” katanya. (*) 

Sumber: