Filosofi Positif Dibalik Catatan Kelam Lomba Panjat Pinang saat Perayaan HUT RI

Filosofi Positif Dibalik Catatan Kelam Lomba Panjat Pinang saat Perayaan HUT RI

Lomba panjat pinang saat merayakan hari kemerdekaan RI seiap 17 Agustusan.-foto:sumeks-

SUMEKS, CO - Gak rame, jika tidak ada lomba panjat pinang saat merayakan HUT Kemerdekaan RI. Coba cek, di tiap kampung, instansi, BUMN, kampus, sekolah, mesti menggelar beragam lomba untuk memeriahkan HUT RI

Mulai dari, lomba lari karung, lomba kelereng sendok, lomba makan kerupuk. Lomba panjat pinang yang paling ditunggu.  Setiap kampung bahkan ditandai dengan 1 pohon pinang. Hadiahnya pun beragam, mulai dari bahan pokok, perkelangkapan mandi, baju, buku. Bahkan saat ini hadiah sudah lebih bergengsi, ada hadiah motor dan uang tunai.

Keseruan dari lomba ini lantaran pohon pinangnya dilumuri oli  atau cairan pelumas yang tebal. Jadi tidak mudah untuk meraih hadiah yang tergantung pada puncak pohon pinang. Tim yang berlomba biasanya terdiri mulai dari 3 hingga 5 orang.

Mereka menetapkan strategi dan berbagi tugas ketika panjat pinang. Ada yang rela menjadi penyangga di paling bawah. Yang bawah ini biasa dipiling yang paling kokoh dan kuat. Karena harus merelakan paha dan pundak diinjak rekan lain demi menggapai hadiah.

Disinila filosofi positif dari lomba panjat pinang.  Mengajarkan para pemain dan tim kompak, keuletan, sportivitas, bekerja keras, bekerja sama dengan tim, dan saling tolong menolong. 

Namun ternyata, Lomba Panjat Pinang memiliki catatan kelam tersendiri. Dikutip dari beberapa sumber berikut sejarah dan asal asulnya:

 

1. Dimulai sejak masa penjajahan Belanda. 

Lomba panjat pinang dalam bahasa Belanda disebut dengan De Klimmast yang artinya panjang tiang.Bangsa Belanda menggunakan panjat pinang sebagai hiburan di acara perayaan-perayaan penting, seperti pesta pernikahan, ulang tahun orang-orang penting dan perayaan penting lainnya. Cara permainanya pun sama seperti saat ini, pohon pinang dilumuri oil atau minyak agar sulit untuk dipanjat. Sekolompok orang harus bisa memanjat supaya hadiah di puncak pohon pinang bisa diambil.  

Zaman penjajah, hadiahnya berupa barang-barang pokok, seperti beras, tepung, pakain, dan lainnya. Wajar, banyak pribumi yang ikutserta, dan berusaha keras mendapatkan barang-barang pokok tersebut. Karena zaman tersebut barang- barang pokok memiliki nilai yang sangat mahal.

 

2. Sebagai Perayaan Ratu Belanda

Jika saat ini panjat pinang dilakukan sebagai peringatan hari kemerdekaan Indonesia, namun pada jaman kolonial,  panjat pinang jadi hiburan memperingati ulang tahun Ratu Belanda Wihelmina setiap 31 Agustus. 

Ulang tahun ratu acara besar yang dirayakan keluarga, koleganya, kalangan bangsawan dan koloni-koloni Belanda di belahan dunia lain. 

Sumber: