Banner Pemprov

Politik yang Tidak Kehilangan Rasa Refleksi atas Buku

Politik yang Tidak Kehilangan Rasa Refleksi atas Buku

Sketsa Pindah Ruang Karya Hendra Alfani: Saat Politik Bertemu Rasa Kemanusiaan--

Catatan: Masayu Indriaty Susanto

Ada orang yang gemar berbicara tentang politik, tetapi kehilangan kepekaan terhadap kehidupan.

Ada pula yang begitu menikmati romantisme kehidupan hingga lupa bahwa di luar sana, kekuasaan sedang bekerja dengan segala dinamikanya.

Dr. Hendra Alfani tampaknya mencoba mempertemukan keduanya. Melalui buku Sketsa Pindah Ruang: Kumpulan Esai tentang Musim Politik, Perjalanan, dan Renungan Kehidupan, Dr. Hendra mengajak pembaca berpindah dari satu ruang pemikiran ke ruang lainnya.

Dari hiruk-pikuk politik menuju perenungan personal. Dari persoalan demokrasi dan kekuasaan menuju secangkir kopi, perjalanan, kenangan, hingga kehilangan.

Menariknya, perpindahan itu tidak terasa sebagai pertentangan. Justru di situlah kekuatan buku ini. Dr. Hendra memperlihatkan bahwa manusia tidak pernah hidup dalam satu ruang sosial yang tunggal.

Kita bisa menjadi pengamat politik yang kritis sekaligus manusia biasa yang menikmati hujan, merindukan seseorang, atau merenungkan waktu yang terus berjalan.

Buku ini menghimpun 76 tulisan yang dikelompokkan dalam tujuh bagian. Rentang temanya cukup luas, mulai dari politik, komunikasi, refleksi kehidupan, perjalanan, peristiwa sosial, pandemi, hingga catatan untuk mereka yang telah berpulang.

Bagian yang menarik perhatian saya tentu saja tulisan-tulisan politiknya. Dalam “Politik Nano-Nano” dan “Renungan Politik”, Dr. Hendra mengangkat berbagai persoalan demokrasi, komunikasi politik, feodalisme, hingga dinamika kekuasaan.

Judul seperti “Politik Cinta: Tak Boleh Dipendam”, “Menggergaji Feodalisme”, dan “Peringatan Darurat Demokrasi!” menunjukkan ketertarikan penulis terhadap politik bukan semata-mata sebagai arena perebutan kekuasaan, melainkan juga sebagai persoalan nilai, relasi sosial, dan perilaku manusia.

Dalam perspektif ilmu komunikasi, politik memang tidak pernah berdiri sendiri. Politik hidup melalui bahasa, simbol, narasi, dan proses pembentukan makna.

Kekuasaan tidak hanya bekerja melalui kebijakan, tetapi juga melalui cara masyarakat memahami dan membicarakan realitas politik.

Tulisan “Politik, Musim Hujan dan Kemarau”, misalnya, menggunakan pergantian musim sebagai pintu masuk untuk merenungkan dinamika manusia dan politik.

Hujan yang terlalu lama membuat orang merindukan kemarau. Sebaliknya, kemarau berkepanjangan membuat manusia berharap hujan segera datang.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: