Banner Pemprov

Perbankan Perketat Prudential Measures di Tengah Risiko Geopolitik Global

Perbankan Perketat Prudential Measures di Tengah Risiko Geopolitik Global

Ketua Umum Perbanas yang juga Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi.--sumeks.co

JAKARTA — Industri perbankan nasional meningkatkan penguatan kerangka manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian (prudential banking) di tengah peningkatan risiko global, memicu eskalasi konflik Iran–Israel yang melibatkan Amerika Serikat dan berpotensi menekan stabilitas harga komoditas strategis, khususnya minyak mentah. 

Ketua Umum Perbanas yang juga Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, menegaskan bahwa meskipun volatilitas eksternal meningkat, indikator fundamental perbankan domestik masih berada pada level yang solid. 

Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit yang tetap terjaga, likuiditas yang memadai, serta permodalan yang kuat. 

 “Kami melihat risiko global meningkat, terutama melalui transmisi kenaikan harga energi dan volatilitas pasar keuangan. Dalam konteks ini, perbankan akan semakin memperkuat prinsip kehati-hatian melalui penguatan risiko manajemen dan kualitas aset,” ujar Hery. 

BACA JUGA:Perkuat Pasar Keuangan Syariah, Bank Mandiri Raih Empat Penghargaan Dealer Utama SBSN Terbaik 2025

BACA JUGA:Berbagi Kebaikan, Bank Mandiri Berangkatkan Lebih dari 10.000 Pemudik melalui Program Mudik Bersama Gratis

Perbanas mencatat sejumlah langkah mitigasi telah dan terus diperkuat oleh industri perbankan di Tanah Air. 

Beberapa langkah tersebut di antaranya melalui stress test sektoral dan penguatan sistem peringatan dini untuk mengantisipasi potensi penurunan kualitas kredit. 

Sedangkan stress test sektoral dilakukan pada sektor-sektor yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi seperti transportasi, logistik, dan manufaktur. 

 Selain itu, lanjut Hery, perbankan juga meningkatkan disiplin penyaluran kredit melalui pendekatan risk-based pricing, menjaga kecukupan likuiditas melalui optimalisasi rasio Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NFSR), serta mengelola eksposur nilai tukar secara lebih konservatif melalui strategi lindung nilai dan pengendalian posisi devisa neto. 

BACA JUGA:Memperkuat Fondasi Masa Depan Generasi Indonesia Bank Mandiri Pertegas Komitmen Dukung Pemerataan Pendididikan

BACA JUGA:Pererat Silaturahmi Melalui Safari Ramadan, Bank Mandiri Taspen Gelar Kegiatan Sosial dan Pemberdayaan Nasabah

“Langkah-langkah ini penting untuk memastikan fungsi intermediasi tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan aspek stabilitas, khususnya di tengah cuaca global yang masih tinggi,” tambahnya. 

 Dengan kebijakan bauran tersebut, industri perbankan diharapkan tetap tangguh dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi domestik, meskipun tekanan eksternal berpotensi meningkat dalam jangka pendek hingga menengah. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: