Bagaimana Media Mengemas Isu Palestina–Israel di Mata Publik Dunia
Dalam konteks ini, media massa memainkan peran yang sangat besar dalam membentuk persepsi publik, baik melalui pemilihan kata, sudut pandang pemberitaan, maupun penonjolan aspek tertentu dalam konflik.-Dok.Sumeks.co-
Pemberitaan mengenai konflik Palestina–Israel menunjukkan bahwa media memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi publik dunia. Cara media memilih kata, foto, narasi, dan konteks menentukan bagaimana masyarakat memahami siapa yang menjadi korban, siapa yang dianggap agresor, dan bagaimana konflik ini dilihat secara moral maupun politis.
Media tidak pernah benar-benar netral; setiap lembaga memiliki kepentingan, orientasi politik, dan audiens tertentu yang menentukan bagaimana realitas konflik dikonstruksi. Dalam kasus Palestina–Israel, perbedaan framing antara media Barat, Timur Tengah, hingga media sosial sangat mencolok, sehingga menghasilkan perbedaan pandangan yang tajam di masyarakat internasional.
Media Barat seperti CNN, BBC, atau The New York Times cenderung menempatkan Israel dalam bingkai “keamanan” dan “pembelaan diri.”
Berita sering diawali dengan roket Hamas atau aksi militan, sehingga framing yang muncul adalah bahwa tindakan Israel merupakan respons terhadap ancaman. Narasi ini diperkuat dengan visual serangan roket, pasukan bersenjata, atau sistem pertahanan Iron Dome.
Dalam pola seperti ini, konteks sejarah, blokade, atau penderitaan warga Palestina sering ditekan menjadi latar belakang kecil. Akibatnya, publik Barat lebih mudah melihat konflik ini melalui kacamata geopolitik dan ancaman terorisme.
Berkebalikan dengan itu, media Timur Tengah seperti Al-Jazeera, TRT World, dan Middle East Eye mengedepankan dimensi kemanusiaan. Gambar kehancuran permukiman Gaza, anak-anak terluka, pengungsian besar-besaran, hingga runtuhnya fasilitas kesehatan disorot secara intens.
Dengan menonjolkan korban sipil dan ketimpangan kekuatan militer, media ini membangun narasi bahwa Palestina adalah pihak yang tertindas dan mengalami kekerasan struktural.
Penyajian visual yang emosional membuat publik dunia, termasuk di Indonesia, cenderung memihak narasi kemanusiaan tersebut.
Media sosial menambah kompleksitas karena menjadi ruang di mana informasi menyebar tanpa filter. Video amatir dari warga Gaza, rekaman serangan udara, dan foto langsung dari lapangan dengan cepat menjadi viral.
Algoritma mendorong konten-konten yang paling emosional, sehingga tragedi kemanusiaan lebih mudah tersebar dibandingkan analisis politis. Di sisi lain, media sosial juga menjadi tempat suburnya propaganda, manipulasi visual, dan disinformasi.
Namun secara keseluruhan, media sosial telah menggeser dominasi media arus utama dengan memberi ruang bagi narasi akar rumput yang sebelumnya tidak terlihat.
Dampaknya, opini publik dunia terpolarisasi. Sebagian besar masyarakat global yang terpapar visual penderitaan warga Gaza lebih memihak pada isu kemanusiaan.
Sementara itu, sebagian publik Barat yang terpapar narasi keamanan Israel cenderung melihat konflik sebagai perang melawan terorisme. Perbedaan ini tidak terjadi secara alami, tetapi dibentuk oleh perbedaan cara media mengemas cerita.
Dalam konflik modern seperti ini, perang informasi sama pentingnya dengan perang fisik; siapa yang memenangkan narasi, dialah yang mendapatkan dukungan moral internasional.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

