Iran Ungkap Jalan Mengakhiri Perang dengan AS dan Israel, Apa Saja?
Syaih Sedunia Peringati Hari Alquds, jumat terakhir bulan Ramadhan. Di Teheran warga tak peduli meski ada serangan AS.--
Deklarasi kemenangan dari pihak pemerintah juga tidak terlalu mengejutkan bagi para pengkritiknya.
Mereka menilai karakter politik Trump serta lingkaran penasihat dekatnya membuat pengakuan kegagalan menjadi sangat tidak mungkin.
BACA JUGA:Ketika Marja Kami Dibunuh: Renungan Seorang Syiah Indonesia
BACA JUGA:Trump Sebut Perang Iran Segera Berakhir, Ancam Serangan 20 Kali Lebih Keras ke Teheran
Sepanjang konflik, pejabat pemerintah berulang kali menyatakan bahwa Iran akan segera menghadapi hukuman yang jauh lebih berat, namun perkembangan di lapangan menunjukkan situasi yang lebih kompleks.
Banyak analis berpendapat bahwa Washington sebenarnya ingin mengakhiri konflik secepat mungkin.
Namun pertimbangan politik dan gengsi membuat pemerintah AS sulit mengakui bahwa perang ini tidak berjalan sesuai rencana.
Perang ini juga menimbulkan pertanyaan tentang posisi Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk Persia.
Sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan balasan Iran yang disebut Operasi Epic Mistake.
Hal ini memunculkan spekulasi mengenai masa depan kehadiran militer AS di wilayah tersebut. Israel sendiri menghadapi tekanan besar dari berbagai arah.
Iran dan sekutunya, termasuk Hizbullah, melancarkan serangan roket dan rudal secara intens yang mengganggu kehidupan sehari-hari di berbagai wilayah, termasuk Tel Aviv dan Israel bagian utara.
Sirene peringatan serangan udara sering terdengar, sejumlah sekolah ditutup, dan banyak warga harus berlindung di tempat perlindungan.
Eskalasi konflik semakin meningkat setelah serangan gabungan AS dan Israel yang dilaporkan menewaskan pemimpin spiritual dan politik Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Terbaru, penggantinya Mojtaba Khamenei, putra dari Ayatollah Ali Khamene dikabar sedang terluka dalam sebuah serangan.
Alih-alih melemahkan Iran, peristiwa tersebut justru disebut telah memperkuat persatuan internal negara itu. Dalam waktu kurang dari seminggu, Iran memilih pemimpin baru sebagai bentuk konsensus nasional.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




