Bung Rocky....

Selasa 06-10-2026,12:34 WIB
Editor : Masayu Indriaty

Pertanyaan ini tidak nyaman. Tetapi filsafat memang tidak diciptakan untuk membuat manusia nyaman. 

Karena kalau kita benar-benar belajar sesuatu dari Rocky selama bertahun-tahun, seharusnya pelajaran itu bukan percaya mutlak dengan seorang Rocky Gerung. 

Justru sebaliknya. Jangan pernah menyerahkan pikiran kita kepada siapa pun. Termasuk kepada Rocky Gerung.

Jadi, Bung Rocky....Silakan masuk Istana. 

Sejarah tidak pernah melarang intelektual berada dekat kekuasaan. Tetapi sejarah juga mengajarkan satu hal. Semakin dekat seorang pemikir dengan kekuasaan, semakin besar kebutuhan publik untuk mengawasi jarak antara pikiran dan kepentingan.

Mungkin kelak Rocky membuktikan bahwa dari dalam Istana ia tetap bisa mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar istana. Kalau itu terjadi, perpindahannya dari luar ke dalam justru menjadi eksperimen intelektual yang menarik.

Tetapi jika suatu hari semua kebijakan kekuasaan tiba-tiba terlihat masuk akal di matanya, publik juga berhak mengingatkan.

Bukan karena Rocky harus menjadi oposisi. Tetapi karena seorang filsuf seharusnya tetap menjadi oposisi terhadap kemalasan berpikir di mana pun ia duduk. Di luar pagar. Atau di dalam Istana. 

Tetapi satu pertanyaan rasanya layak ditunggu jawabannya. Ketika seorang pengkritik kekuasaan akhirnya menjadi bagian dari kekuasaan, siapa yang akan lebih dulu berubah? Kekuasaannya, atau pengkritiknya?

Dan seperti nasihat tak tertulis filsafat sejak ribuan tahun lalu. Jangan terlalu cepat percaya. Bahkan kepada orang yang mengajarkan kita untuk tidak mudah percaya. Selamat menikmati kekuasaan Bung..! (*)

Kategori :