“Ia sedang berbicara sebagai pemikir, atau sebagai bagian dari kekuasaan?”
Prancis juga pernah gaduh ketika filsuf selebritas Bernard-Henri Lévy memiliki akses langsung kepada Presiden Nicolas Sarkozy dan ikut mendorong kebijakan Prancis mengenai Libya pada 2011. Perdebatan yang muncul kemudian bukan sekadar mengenai benar atau salahnya Lévy, melainkan soal yang lebih besar: “Seberapa dekat seorang intelektual seharusnya berada dengan kekuasaan?”
Ada pula cerita yang bergerak ke arah berbeda. Václav Havel. Penulis drama dan pembangkang rezim komunis Cekoslowakia itu bertahun-tahun hidup sebagai suara dari luar kekuasaan. Ia ikut mendirikan Charter 77, mengalami penjara, dan menulis tentang keberanian untuk Living in Truth, hidup dalam kebenaran.
Lalu sejarah membawanya masuk ke pusat kekuasaan. Havel menjadi presiden. Dan justru di sanalah idealismenya berhadapan dengan politik sehari-hari: negosiasi, kompromi, birokrasi dan pragmatisme.
Catatan tentang masa kepresidenannya menunjukkan bahwa idealisme moral Havel memang kerap berbenturan dengan realitas politik praktis.
Artinya, persoalannya sejak dahulu bukan sederhana. Bolehkah seorang intelektual masuk kekuasaan? Tentu boleh. Pertanyaan yang lebih penting adalah, apa yang terjadi pada pikirannya setelah ia berada di sana?
Intelektual Bukan
Selebritas Kebenaran
Di sinilah kita perlu membicarakan sesuatu yang lebih besar daripada Rocky Gerung. Indonesia sedang hidup dalam zaman ketika intelektual juga menjadi selebritas. Jumlah views bisa menentukan siapa yang dianggap pintar.
Potongan video 30 detik bisa menggantikan buku 300 halaman. Kalimat paling provokatif mengalahkan argumen paling hati-hati.
Algoritma menyukai kemarahan. Media sosial menyukai kepastian. Padahal filsafat justru dimulai dari keraguan.
Socrates tidak terkenal karena memiliki semua jawaban. Ia terkenal karena terus bertanya. Karena itu masyarakat tidak membutuhkan filsuf sebagai nabi politik.
Kita membutuhkan mereka sebagai pengganggu kenyamanan berpikir. Termasuk mengganggu pemerintah yang kita sukai. Termasuk mempertanyakan tokoh yang kita kagumi.
Bahkan termasuk mempertanyakan Rocky Gerung. Maka kekecewaan sebagian publik terhadap Rocky sebenarnya menarik dibaca dari arah lain. Jangan-jangan bukan hanya Rocky yang sedang diuji. Kita juga.
Apakah selama ini kita benar-benar menyukai gagasannya? Atau kita menyukai Rocky karena kritiknya kebetulan sesuai dengan ketidaksukaan politik kita?
Apakah kita mengagumi filsafatnya? Atau hanya menikmati ketika pisau logikanya diarahkan kepada orang yang tidak kita sukai?