Bung Rocky....

Selasa 06-10-2026,12:34 WIB
Editor : Masayu Indriaty

Lalu Rocky masuk Istana. Kemarin, simbol itu berjalan melewati pagar yang selama ini ia kritik dari luar. Reaksi publik pun mudah dipahami. 

BACA JUGA: Rocky Gerung Masuk Wantimpres: Mengubah Kekuasaan atau Terjebak Kompromi?

BACA JUGA:Rocky Gerung Puji Salsa Erwina Punya Narasi Kuat, Anggota DPR Jangan Hardik Majikannya

Beberapa waktu sebelum pelantikannya, perdebatan mengenai perubahan sikap Rocky sebenarnya sudah muncul. Potongan pernyataannya mengenai program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih beredar di media sosial dan memunculkan tudingan bahwa Rocky telah berubah. 

Seorang akademisi filsafat bahkan menulis pertanyaan yang menarik: *Rocky Gerung berubah, atau kita yang salah membaca?*

Rocky sendiri punya jawaban. Setelah dilantik, ia mengatakan dirinya cuma berpindah dari luar ke dalam. Sikap dan pandangannya, katanya, tetap sama. Ia juga membedakan antara “mengkritik” dan bersikap “kritis” terhadap kebijakan.  

Secara argumentatif, penjelasan itu masuk akal. Seorang intelektual tentu tidak otomatis kehilangan kemerdekaan berpikir hanya karena memasuki pemerintahan.

Tetapi politik bukan hanya perkara argumentasi. Politik juga perkara persepsi. Dan persepsi publik memiliki logikanya sendiri. 

Ketika seorang intelektual berdiri di luar kekuasaan, publik melihat jarak. Ketika ia masuk ke dalamnya, publik mulai bertanya tentang independensi. Itu bukan dosa. Itu konsekuensi.

Mungkin Rocky sekarang justru sedang menghadapi ujian filsafatnya yang paling serius. Bukan di ruang debat. Bukan di podcast. Bukan di auditorium kampus. Tetapi di dalam kekuasaan.

Sebab jauh lebih mudah berbicara tentang kebebasan ketika kita berada di luar pagar dibanding mempertahankan kebebasan berpikir ketika kita sudah berada di dalam “rumah”. Apalagi "rumah" penguasa.

Kekuasaan memiliki bahasa sendiri. Dan perlahan-lahan, tanpa disadari, seorang pengkritik bisa mulai memahami kekuasaan terlalu baik. Dari memahami, kemudian memaklumi. Dari memaklumi, kemudian membela.

Tentu belum tentu itu yang akan terjadi pada Rocky. Justru karena itu terlalu dini menjatuhkan vonis. Tetapi terlalu naif pula jika publik tidak mengajukan pertanyaan. Bukankah filsafat sendiri hidup dari pertanyaan?

Sejarah intelektual dunia sebenarnya penuh dengan cerita tentang hubungan rumit antara pikiran dan kekuasaan. Prancis mengenal Régis Debray.

Masa mudanya jauh lebih radikal daripada kebanyakan intelektual: dekat dengan Fidel Castro, mengikuti perjuangan Che Guevara di Bolivia, lalu bertahun-tahun kemudian masuk ke lingkungan negara dan menjadi penasihat Presiden François Mitterrand.

Perjalanannya menunjukkan sesuatu yang menarik: seorang intelektual bisa berpindah dari pinggir kekuasaan menuju pusatnya tanpa otomatis berhenti menjadi intelektual. Tetapi sejak itu, setiap gagasannya akan dibaca dengan pertanyaan baru:

Kategori :