Kedua, memimpin dengan kewibawaan, bukan keangkuhan.
Ketiga, memiliki otoritas, tetapi tetap membuka ruang musyawarah.
Keempat, dihormati karena akhlaknya, bukan karena jabatannya.
Ada ungkapan yang menurut saya tepat:
"Pesantren besar tidak lahir karena kiai yang selalu merasa benar, tetapi karena kiai yang selalu mau belajar."
Dan ujian terbesar seorang kiai sering kali bukan saat memulai pesantren dari nol, melainkan ketika pesantrennya sudah besar, namanya sudah masyhur, dan semua orang memujinya.
Pada titik itulah tawadhu’ menjadi lebih sulit daripada membangun gedung.
Seseorang pernah berkata dengan nada kesal:
"Kiai, memangnya siapa?"
Lalu ia sendiri menjawab:
"Bukan Tuhan. Bukan Nabi. Jangan seenaknya mengaku wali. Profesor dan doktor, apakah itu syarat masuk surga?"
Bukankah gelar kadang justru meninabobokan seseorang sehingga merasa lebih tinggi daripada yang lain?
Merasa lebih hebat daripada Al-Qur’an dan Al-Hadis.
Merasa setengah nabi.
Atau merasa lebih pintar daripada Al-Farabi, Al-Ghazali, dan Ibnu Khaldun.
Kritik tersebut mungkin terdengar keras, tetapi mengandung pesan yang penting. Tidak ada jabatan, gelar, kharisma, atau popularitas yang dapat menggantikan kerendahan hati.