"Kiai, saya kira pendapat itu perlu dipertimbangkan kembali."
Ketika semua orang hanya mengangguk, seorang pemimpin kehilangan cermin.
Irving Janis (1982) menyebut fenomena ini sebagai groupthink, yaitu keadaan ketika sebuah kelompok kehilangan kemampuan berpikir kritis karena terlalu kuatnya dorongan untuk mempertahankan kesepakatan.
Dalam situasi seperti itu, kesalahan menjadi sulit dikenali karena tidak ada lagi suara yang berani mengoreksi.
Kesepian intelektual adalah kondisi ketika seorang pemimpin dikelilingi penghormatan, tetapi kehilangan kritik. Ia memiliki pengikut, tetapi tidak lagi memiliki sahabat yang berani mengatakan kebenaran.
Padahal, dalam tradisi Islam, nasihat dan koreksi merupakan bagian penting dari kepemimpinan yang sehat.
Yang Patut Diteladani
Dari kiai-kiai besar yang dikenang sejarah, biasanya ada tiga ciri.
Pertama, tawadhu’ meskipun berpengaruh.
Kedua, mau mendengar meskipun berilmu.
Ketiga, mau mengalah meskipun mampu menang.
Lihat figur seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, atau KH Zainuddin Abdul Madjid. Yang dikenang bukan hanya pengaruhnya, tetapi juga kerendahan hatinya.
Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din mengingatkan bahwa salah satu penyakit ilmu adalah ujub atau kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri.
Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar tuntutan untuk menyadari keterbatasannya sendiri (Al-Ghazali, 2010). Karena itu, kerendahan hati bukan sekadar akhlak personal, melainkan syarat penting bagi keberlanjutan kepemimpinan.
Seharusnya Bagaimana?
Pertama, kiai memang harus memimpin seperti raja dalam tanggung jawab, tetapi tidak seperti raja dalam kemuliaan.