Kiai Raja, Raja Kiai

Selasa 16-06-2026,09:22 WIB
Reporter : KH. Mudrik Qori

Organisasi yang sehat seharusnya membangun sistem yang mampu bertahan melampaui figur pendirinya.

Keempat, kurang kaderisasi

Semua keputusan kembali kepada kiai sehingga generasi berikutnya tidak terlatih.

Robert Michels (1915) menyebut kecenderungan ini sebagai iron law of oligarchy, yaitu situasi ketika organisasi cenderung terpusat pada segelintir elite sehingga proses regenerasi berjalan kurang optimal.

BACA JUGA:Ponpes Al Ittifaqiah Indralaya Ogan Ilir: Selamat Ulang Tahun ke-7 SUMEKS.CO Tahun 2026

BACA JUGA:MTQ XXXI Ogan Ilir Berakhir, Pemulutan Sabet Gelar Juara Umum, Pj Sekda Sampaikan Apresiasi

Kelima, sensitif terhadap pengakuan

Ingin dihormati, disebut, diundang, atau diapresiasi.

Godaan ini tidak hanya dialami oleh kiai, tetapi juga oleh hampir semua pemimpin. Ketika penghormatan menjadi kebutuhan psikologis, orientasi pelayanan dapat bergeser menjadi orientasi pencitraan.

Keenam, kompetisi status

Kadang terjadi perbandingan diam-diam mengenai jumlah santri, luas tanah, tamu pejabat, cabang, atau gedung.

Padahal, ukuran keberhasilan pesantren tidak selalu identik dengan kemegahan fisik. Kualitas pendidikan, integritas moral, dan kontribusi sosial jauh lebih penting dibandingkan simbol-simbol prestise.

Yang Perlu Diwaspadai

Menurut saya, bahaya terbesar bukanlah kekuasaan.

Bahaya terbesar adalah kesepian intelektual.

Semakin tinggi posisi seorang kiai, semakin sedikit orang yang berani berkata:

Kategori :

Terkait

Selasa 16-06-2026,09:22 WIB

Kiai Raja, Raja Kiai