Ketika Marja Kami Dibunuh: Renungan Seorang Syiah Indonesia

Rabu 04-03-2026,21:10 WIB

Karbala mengajarkan bahwa kemenangan moral sering datang setelah kekalahan militer.

Imam Husain kalah secara fisik di padang Karbala.

Namun lebih dari 1300 tahun kemudian, nama Husain justru lebih hidup daripada nama Yazid.

Ini adalah paradoks sejarah.

Pedang bisa membunuh manusia.

Tetapi ia tidak bisa membunuh makna.

Jika Ayatullah Khamenei gugur sebagai syahid, maka dalam narasi Syiah beliau akan ditempatkan dalam garis sejarah para pemimpin yang mengorbankan diri demi keyakinan.

Bagi umat Syiah, tragedi ini adalah duka.

Namun bagi dunia, peristiwa ini harus menjadi bahan refleksi besar.

Sejarah menunjukkan bahwa kekerasan politik jarang menghasilkan perdamaian.

Ia hanya menciptakan siklus balas dendam baru.

Kematian seorang pemimpin bisa mengakhiri satu bab sejarah, tetapi sering membuka bab konflik yang lebih panjang.

Pertanyaan terbesar bagi umat manusia adalah: Apakah dunia akan belajar dari tragedi ini?

Ataukah kita akan kembali mengulang pola lama di mana kekuatan militer dianggap sebagai solusi bagi masalah politik?

Sebagai seorang Syiah Indonesia, saya menulis refleksi ini bukan untuk menebar kebencian.

Saya menulisnya sebagai ungkapan duka dan refleksi sejarah.

Kategori :