Ketika Marja Kami Dibunuh: Renungan Seorang Syiah Indonesia

Rabu 04-03-2026,21:10 WIB

Dalam narasi Syiah, selalu ada dua kutub sejarah:

Husain vs Yazid.

Kebenaran vs kekuasaan.

Setiap kali seorang pemimpin yang dianggap melawan tirani terbunuh, memori Karbala kembali hidup.

Itulah sebabnya banyak Syiah melihat kematian Ayatullah Khamenei bukan sekadar tragedi politik, tetapi bagian dari sejarah panjang pengorbanan pemimpin umat.

BACA JUGA:Iran Membalas, Gempur 5 Pangkalan Militer AS, Timur Tengah di Ambang Perang Besar

BACA JUGA:Konflik Iran-Israel dan AS Memanas, Penerbangan Internasional Dibatalkan dan Dialihkan, Ini Daftarnya

Dalam logika militer modern, pembunuhan pemimpin sering dianggap strategi efektif.

Istilahnya dikenal sebagai decapitation strike, memenggal kepala kepemimpinan agar sebuah sistem runtuh.

Namun sejarah sering menunjukkan sebaliknya.

Justru setelah seorang pemimpin dibunuh, gerakan yang dipimpinnya sering menjadi lebih kuat.

Mengapa?

Karena martir memiliki kekuatan simbolik yang tidak dimiliki oleh manusia biasa.

Dalam tradisi Islam terdapat ayat yang sangat terkenal:

“Dan janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan mendapat rezeki.”

(QS Ali Imran 169)

Kategori :