Pemerintah pusat masih menyiapkan stimulus non harga seperti pembangunan stasiun pengisian cepat, diskon tarif listrik malam hari untuk pengisian rumah, serta insentif parkir di beberapa kota besar.
Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat menjaga daya tarik mobil listrik meskipun harga awal pembelian meningkat.
Beberapa produsen juga mulai merespons dengan strategi baru, berdasarkan pernyataan resmi beberapa agen pemegang merek yang dikutip dari siaran pers industri otomotif.
Fokus produksi 2026 diarahkan pada varian baterai berkapasitas sedang dengan efisiensi tinggi, tujuan utamanya agar harga tetap berada di bawah ambang psikologis tertentu.
BACA JUGA:Mobil Listrik Rp200 Jutaan Masih Ada! Ini Daftar Merk yang Dapat Subsidi Pemerintah 2026
Selain itu, paket pembiayaan dengan bunga rendah dan jaminan baterai hingga delapan tahun mulai dipromosikan lebih agresif untuk menekan kekhawatiran konsumen terhadap biaya kepemilikan jangka panjang.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga bukan akhir dari cerita mobil listrik di Indonesia, melainkan fase penyesuaian menuju pasar yang lebih matang.
Konsumen kini dituntut lebih cermat menghitung total biaya kepemilikan, bukan hanya terpaku pada harga awal, sementara produsen harus berlomba menawarkan efisiensi, layanan purna jual, dan teknologi baterai yang lebih tahan lama agar tetap relevan di tengah harga yang tidak lagi dimanjakan subsidi.
Perubahan drastis di Januari 2026 menjadi sinyal bahwa era mobil listrik murah karena dorongan pajak mulai bergeser, digantikan oleh persaingan kualitas dan efisiensi nyata.
BACA JUGA:3 Mobil Listrik Murah di Harga 200 Jutaan, Simak Geely EX2 Harga Pre-Book-nya Berapa?
BACA JUGA:BYD Mulai Berseliweran di Jalan Raya, Perkokoh Posisi di Pasar Mobil Listrik Tanah Air
Bagi sebagian orang situasi ini terasa mengejutkan, namun bagi industri otomotif, langkah ini justru menjadi ujian penting apakah kendaraan listrik benar-benar mampu berdiri sebagai pilihan rasional tanpa tongkat fiskal dari negara.