Kementerian Luar Negeri RI menyampaikan bahwa Indonesia akan memberikan bantuan senilai USD 1 juta, yang terdiri dari pengiriman Tim SAR Urban Search and Rescue (USAR), Tim Medis Darurat (Emergency Medical Team/EMT), serta bantuan logistik yang mencakup makanan, obat-obatan, tenda darurat, dan alat penyuling air bersih.
BACA JUGA:Gempa Guncang Merangin-Jambi, BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah
Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, dalam Pertemuan Darurat para Menteri Luar Negeri ASEAN yang digelar secara daring pada 30 Maret 2025, menyampaikan dukacita dan solidaritas Indonesia untuk rakyat Myanmar dan Thailand.
Ia menegaskan pentingnya koordinasi jangka panjang dalam pemulihan wilayah terdampak.
Ya. Indonesia siap memberikan bantuan yang dibutuhkan masyarakat Myanmar dan Thailand.
"Bantuan kemanusiaan harus disalurkan secara cepat dan inklusif. Saya menyerukan agar kita mengesampingkan perbedaan dan membantu satu sama lain, tanpa terkecuali,” ujar Menlu Sugiono.
Indonesia juga telah mengirimkan dua orang perwakilan sebagai bagian dari ASEAN Emergency Response and Assessment Team (ASEAN-ERAT) yang tiba di Myanmar pada 30 Maret 2025.
Tim pendahuluan beranggotakan 10 orang dari Indonesia juga dijadwalkan berangkat membawa sebagian bantuan dari masyarakat Indonesia.
Sementara itu, keberangkatan resmi Tim INASAR direncanakan pada 1 April, disusul oleh Tim EMT dan logistik yang akan dilepas langsung oleh Presiden RI pada 3 April 2025 dari Bandara Halim Perdanakusuma.
Komitmen ASEAN untuk Pemulihan Jangka Panjang
Dalam pertemuan darurat ASEAN, para Menlu sepakat memperkuat ASEAN Standby Arrangements, mengerahkan ASEAN-ERAT, serta mengaktifkan sistem logistik darurat DELSA (Disaster Emergency Logistics System for ASEAN).
Langkah ini bertujuan untuk mempercepat distribusi bantuan secara tepat sasaran dan memastikan bahwa proses pemulihan dilakukan secara terkoordinasi dan menyeluruh.
Menlu Sugiono juga mengingatkan bahwa luasnya wilayah terdampak menjadikan bantuan jangka pendek tidak cukup.
Ia menyerukan pentingnya kerja sama dalam tahap rekonstruksi dan rehabilitasi, serta mendorong terciptanya stabilitas politik dan sosial di Myanmar, demi kelancaran penyaluran bantuan dan pemulihan jangka panjang.