Bung Rocky....
Rocky masuk Istana. Pada 2 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto melantik Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden. --
Catatan: Masayu Indriaty Susanto
Tiga hari ini media sosial begitu riuh. Dan nama Rocky Gerung kembali berseliweran. Kali ini bukan karena ia mengucapkan satu kalimat pedas tentang pemerintah.
Bukan juga karena sebuah metafora yang membuat politisi tersinggung. Bukan pula karena potongan video debat yang kemudian viral.
Justru sebaliknya. Rocky masuk Istana. Pada 2 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto melantik Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden.
Sosok yang selama bertahun-tahun dikenal berada di luar pagar kekuasaan itu kini duduk di sebuah lembaga yang memberi pertimbangan langsung kepada Presiden.
Dan mungkin di situlah kegaduhan sesungguhnya bermula. Bukan pada jabatan itu. Tetapi pada harapan publik yang terlanjur dititipkan kepada seorang Rocky Gerung.
Ya…publik..utamanya netizen…kecewa berat.
Kita mungkin perlu adil sejak awal. Rocky tidak pernah menandatangani kontrak dengan masyarakat bahwa ia harus menjadi oposisi seumur hidup. Ia juga tidak pernah berjanji akan berdiri selamanya di luar Istana.
Tetapi publik punya ingatan. Selama bertahun-tahun Rocky dikenal sebagai salah satu suara yang paling keras mengganggu kenyamanan kekuasaan. Ia berdebat, menyindir, membongkar kata, mempermainkan logika, dan sesekali membuat lawan bicaranya kehilangan kalimat.
Ia membawa filsafat keluar dari ruang kuliah. Tiba-tiba epistemologi bisa dibicarakan di warung kopi. Logika masuk YouTube. Etika politik menjadi bahan percakapan orang-orang yang mungkin tak pernah membaca Kant, Nietzsche, Hannah Arendt atau Habermas.
Itulah barangkali jasa terbesar Rocky. Ia membuat filsafat terasa populer. Di tangan Rocky, filsafat bukan lagi tumpukan buku tebal yang membuat mahasiswa mengantuk. Filsafat menjadi pisau. Untuk membedah kekuasaan. Untuk mempertanyakan kebenaran. Untuk mengatakan kepada publik: “Jangan percaya begitu saja. Berpikirlah!”
Dan pesan seperti itu menjadi sangat penting ketika kita memasuki zaman post-truth. Zaman ketika sesuatu tidak harus benar untuk dipercaya.
Cukup diulang berkali-kali. Cukup dibuat viral. Cukup dibungkus emosi. Lalu algoritma akan mengerjakan sisanya.
Di tengah dunia semacam itu, masyarakat membutuhkan intelektual publik. Bukan manusia yang selalu benar, tetapi orang yang membantu masyarakat mempertanyakan apa yang dianggap benar.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




