Banner Pemprov

Bung Rocky....

Bung Rocky....

Rocky masuk Istana. Pada 2 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto melantik Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden. --

Karena itu Rocky bukan sekadar Rocky. Ia telanjur menjadi simbol. Dan masalah dengan simbol adalah: publik sering menaruh harapan jauh lebih besar daripada yang pernah diminta oleh orang yang menjadi simbol itu.

Lalu Rocky masuk Istana. Kemarin, simbol itu berjalan melewati pagar yang selama ini ia kritik dari luar. Reaksi publik pun mudah dipahami. 

BACA JUGA: Rocky Gerung Masuk Wantimpres: Mengubah Kekuasaan atau Terjebak Kompromi?

BACA JUGA:Rocky Gerung Puji Salsa Erwina Punya Narasi Kuat, Anggota DPR Jangan Hardik Majikannya

Beberapa waktu sebelum pelantikannya, perdebatan mengenai perubahan sikap Rocky sebenarnya sudah muncul. Potongan pernyataannya mengenai program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih beredar di media sosial dan memunculkan tudingan bahwa Rocky telah berubah. 

Seorang akademisi filsafat bahkan menulis pertanyaan yang menarik: *Rocky Gerung berubah, atau kita yang salah membaca?*

Rocky sendiri punya jawaban. Setelah dilantik, ia mengatakan dirinya cuma berpindah dari luar ke dalam. Sikap dan pandangannya, katanya, tetap sama. Ia juga membedakan antara “mengkritik” dan bersikap “kritis” terhadap kebijakan.  

Secara argumentatif, penjelasan itu masuk akal. Seorang intelektual tentu tidak otomatis kehilangan kemerdekaan berpikir hanya karena memasuki pemerintahan.

Tetapi politik bukan hanya perkara argumentasi. Politik juga perkara persepsi. Dan persepsi publik memiliki logikanya sendiri. 

Ketika seorang intelektual berdiri di luar kekuasaan, publik melihat jarak. Ketika ia masuk ke dalamnya, publik mulai bertanya tentang independensi. Itu bukan dosa. Itu konsekuensi.

Mungkin Rocky sekarang justru sedang menghadapi ujian filsafatnya yang paling serius. Bukan di ruang debat. Bukan di podcast. Bukan di auditorium kampus. Tetapi di dalam kekuasaan.

Sebab jauh lebih mudah berbicara tentang kebebasan ketika kita berada di luar pagar dibanding mempertahankan kebebasan berpikir ketika kita sudah berada di dalam “rumah”. Apalagi "rumah" penguasa.

Kekuasaan memiliki bahasa sendiri. Dan perlahan-lahan, tanpa disadari, seorang pengkritik bisa mulai memahami kekuasaan terlalu baik. Dari memahami, kemudian memaklumi. Dari memaklumi, kemudian membela.

Tentu belum tentu itu yang akan terjadi pada Rocky. Justru karena itu terlalu dini menjatuhkan vonis. Tetapi terlalu naif pula jika publik tidak mengajukan pertanyaan. Bukankah filsafat sendiri hidup dari pertanyaan?

Sejarah intelektual dunia sebenarnya penuh dengan cerita tentang hubungan rumit antara pikiran dan kekuasaan. Prancis mengenal Régis Debray.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: