Banner Pemprov

Catur Iran: Ketika Wilayatul Faqih Mengubah Logika Kekuasaan

Catur Iran: Ketika Wilayatul Faqih Mengubah Logika Kekuasaan

Catur Iran: Ketika Wilayatul Faqih Mengubah Logika Kekuasaan--

BACA JUGA:Konflik Iran-Israel dan AS Memanas, Penerbangan Internasional Dibatalkan dan Dialihkan, Ini Daftarnya

Semua itu melindungi satu hal yang paling penting: nilai Islam dan kedaulatan umat.

Itulah “raja” yang sebenarnya.

Karena itu, lawan Iran sering melakukan kesalahan analisis. Mereka mengira bahwa dengan menghilangkan figur tertentu seorang jenderal, ilmuwan, atau pemimpin maka permainan akan berakhir. Mereka mengira papan catur akan runtuh.

Padahal dalam struktur ideologis revolusi, permainan tidak bergantung pada satu figur. Papan catur terus berjalan karena yang dipertahankan bukan individu, melainkan prinsip.

Inilah perbedaan mendasar antara negara ideologis dan negara kekuasaan biasa.

Negara yang hanya bertumpu pada elite politik sering rapuh ketika pemimpinnya jatuh. Tetapi negara yang dibangun di atas keyakinan ideologis memiliki kemampuan regenerasi yang kuat.

Dalam tradisi Syiah sendiri, konsep ini bukan hal baru. Sejarah Karbala mengajarkan bahwa kemenangan tidak selalu diukur dari bertahannya pemimpin, tetapi dari tegaknya nilai kebenaran.

Imam Husain gugur di Karbala, tetapi peristiwa itu justru mengguncang legitimasi kekuasaan tiran pada zamannya.

Logika yang sama tampaknya hidup dalam strategi politik Iran.

Mereka memahami bahwa dalam perjuangan panjang, pengorbanan bukan akhir permainan, melainkan bagian dari langkah-langkah menuju posisi yang lebih kuat.

Seperti dalam catur, kemenangan tidak ditentukan oleh satu langkah spektakuler, tetapi oleh kesabaran menyusun strategi, keberanian mengambil risiko, dan keyakinan pada tujuan akhir.

Dan dalam papan catur Iran, tujuan itu bukan sekadar kemenangan geopolitik.

Tujuan itu adalah menjaga kehormatan Islam dan martabat umat manusia.

“Iran tidak penting; yang paling penting adalah Islam.” Imam Khamenei (1939-2026)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: