Geolog 2 Universitas Turun ke Teror Api Rumah Warga di Sleman, ini Penyebabnya
Geolog UPN Veteran Jogja menjelaskan sumber api gas metana di rumah Mutfiana. Foto: detik.com--
SLEMAN, SUMEKS.CO - Munculnya api puluhan kali dalam waktu sepekan di rumah Muftiana, warga Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menarik perhatian geolog dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Jogja dan Universitas Gajah Mada (UGM).
Tim geolog dua perguruan tinggi ini melakukan investigasi untuk menemukan penyebab teror api di rumah Mutfiana. Berikut temuannya.
Diketahui rumah Mutfiana sudah terbakar 39 kali sejak Sabtu (24/5) hingga Kamis (28/5). Api diduga muncul dari gas metana yang menumpuk di area rumah.
Geolog UPN Jogja Ungkap Sumber Gas
Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN Jogja, Prof Dr Ir RM Basuki Rahmad ikut mengobservasi rumah Fia. Dia mengungkap gas metana di rumah Fia diduga bersumber dari area lahan yang merupakan bekas rawa.
BACA JUGA:Kebakaran Puluhan Kali di Rumah Agus Yani Belum Terjawab
Basuki dan tim menemukan indikasi sumber gas berada di kawasan sungai yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah tersebut. Di lokasi itu terdapat singkapan batuan berwarna gelap dengan genangan air yang mengeluarkan gelembung gas.
"Nah akhirnya kami ketemu gelembung-gelembung gas yang indikasi kuat itu adalah gas metana, gas CH4. Itu tepat di bawah jembatan Jalan Nepen," ujarnya di lokasi, Sabtu (30/5/2026).
"Jadi artinya, indikasi pertama, karena ini masih investigasi awal, indikasi kuat sumber gas ini adalah gas metana dari rawa. Jadi ini salah satu indikasi kuat batuan wilayah ini dulunya memang bekas rawa," jelasnya.
BACA JUGA:Korban Kebakaran 1 Ilir Palembang, Terima Bantuan Material Bangunan dari PUSRI
Akan Lakukan Pemantauan Sebulan
Basuki menilai kondisi lokasi sudah relatif aman. Namun, pihaknya akan melakukan pemantauan untuk memastikan kondisi benar-benar stabil.
"Gas kelihatannya sudah menurun, tidak ada gejala api. Jadi kami berharap kita tunggu saja sekitar satu bulan. Setelah itu kita lihat kalau memang sudah tidak ada semburan gas lagi, mungkin kita klasifikasi musibah ini bisa sedang atau ringan," ujarnya.
Dia menambahkan, berdasarkan pemeriksaan awal, gas tersebut tidak memiliki tekanan tinggi sehingga tidak terlalu membahayakan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



