Banner Pemprov

Karhutla di Kalimantan, Malaysia Terdampak Kabut Asap

Karhutla di Kalimantan, Malaysia Terdampak Kabut Asap

Karhutla di Kabupaten Paser, Kaltim. Foto: Polres Paser--

SARAWAK, SUMEKS.CO - Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan menyebabkan kabut asap di Negeri Jiran, Malaysia. Kabut asap kembali melanda Malaysia pada Senin (10/8/2026) akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, Indonesia.

Sarawak menjadi wilayah yang paling terdampak, dengan sejumlah daerah mencatat indeks polusi udara (API) dalam kategori tidak sehat. Adapun kabut asap merupakan masalah menahun di Asia Tenggara yang berdampak pada Malaysia dan Singapura karena letaknya yang berdekatan dengan Indonesia.

Delapan wilayah Sarawak tak sehat

The Star melaporkan, hingga Selasa (11/8/2026) siang, delapan wilayah di Sarawak mencatat API dalam kategori “tidak sehat”. Kota Samarahan mencatat angka tertinggi, yakni 169. Selanjutnya Kuching berada di angka 165, Bintulu 159, Samalaju 155, Mukah 154, Sibu 154, Simanggang 154, dan Sarikei 153.

BACA JUGA:Cegah Karhutla 2026, Polres Empat Lawang Bergerak Serentak di 9 Kecamatan

BACA JUGA:Atasi Karhutla di Sumsel Perlu Manajemen yang Baik, Sanksi Tegas Hingga Peran Perusahaan Dibutuhkan

Dalam klasifikasi Malaysia, angka API 100-200 masuk kategori tidak sehat. Sementara itu, angka di atas 200 dikategorikan “sangat tidak sehat” dan dapat memicu penghentian kegiatan luar ruangan serta penutupan sekolah.

Sehari sebelumnya, Senin (10/8/2026), indeks polusi udara di Serian, wilayah selatan Sarawak, bahkan mencapai 182. Kondisi ini disebut berkaitan dengan asap dari kebakaran di Indonesia yang bergerak ke utara.

Di Semenanjung Malaysia, Johan Setia di Selangor mencatat API tertinggi, yakni 152 pada Senin siang. Pemerintah Sarawak meminta masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan selama kabut asap berlangsung.

Wakil Menteri Transportasi Sarawak Henry Harry Jinep mengatakan persoalan tersebut bukan kejadian satu kali, dan sebagian besar asap berasal dari wilayah di seberang perbatasan yang berada di luar kendali pemerintah negara bagian.

BACA JUGA:Ajak Warga Cegah Karhutla, Kapolres OKI Silaturahmi dengan Kades di Kecamatan Lempuing Jaya

BACA JUGA:Penanganan Karhutla di OKI Tambah 2 Regu Anggota Manggala Agni dari Jambi

Kebakaran di Kalimantan

Fisikawan atmosfer dari Universiti Sains Malaysia, Associate Professor Dr Yusri Yusup, mengatakan, kebakaran umumnya dipicu aktivitas manusia, termasuk pembakaran terbuka yang tidak terkendali. Meski demikian, penyebab alami juga tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan.

Menurut Yusri, kondisi cuaca kering membuat vegetasi yang telah mengering mudah terbakar dan menyebabkan api menyebar lebih cepat. Namun, dampak kebakaran terhadap kualitas udara tidak hanya ditentukan oleh sumber api.

Kondisi cuaca dan arah angin juga menjadi faktor penting dalam menentukan ke mana asap akan bergerak. Karena itu, Yusri mengatakan bahwa sumber kebakaran, kondisi cuaca, serta arah angin perlu dianalisis sebelum menilai dampak keseluruhannya terhadap kualitas udara.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: