Karhutla di Kalimantan, Malaysia Terdampak Kabut Asap
Karhutla di Kabupaten Paser, Kaltim. Foto: Polres Paser--
BACA JUGA:Kapolres Ogan Ilir Patroli Cek Embung Persediaan Air di Titik Rawan Karhutla di Indralaya Utara
BACA JUGA:Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni Kunker ke OKI, Pemerintah Siap Melindungi Warga dari Karhutla
Yusri juga mengingatkan agar memburuknya kualitas udara saat ini tidak langsung dikaitkan dengan El Nino.
Sebelumnya, El Nino diproyeksikan mencapai puncak sekitar Agustus atau September. Namun, perkiraan terbaru menunjukkan bahwa puncaknya dapat tertunda hingga akhir tahun.
Menurut Yusri, perubahan waktu puncak tersebut bukan berarti El Nino tidak terjadi. Dampak terkuatnya hanya mungkin muncul lebih lambat dari perkiraan sebelumnya.
Cuaca perparah kabut asap
Layanan Meteorologi Malaysia sebelumnya memperingatkan bahwa cuaca panas dan berkurangnya curah hujan diperkirakan berlangsung hingga Jumat.
BACA JUGA:Karhutla di Kecamatan Sungai Menang, Tim Gabungan dan PT PAR Berjibaku Padamkan
BACA JUGA:Polsek Pampangan Sampaikan Sosialisasi Karhutla Malam Hari ke Masyarakat
Kondisi tersebut berpotensi memperburuk kabut asap. Menurut lembaga tersebut, angin dari selatan dan tingginya jumlah titik api di Indonesia berpotensi menyebabkan kabut asap lintas batas serta mengurangi jarak pandang, terutama di wilayah selatan Sarawak.
Perdana Menteri Sarawak Tan Sri Abang Johari Openg meminta masyarakat mengambil langkah pencegahan. Ia mengatakan, kondisi kabut asap saat ini belum separah episode sebelumnya, tetapi risiko yang berkaitan dengan El Nino tetap perlu diperhatikan.
Masyarakat juga diminta mengikuti panduan Pusat Pengurusan Bencana Sarawak. Berdasarkan panduan tersebut, seluruh aktivitas luar ruangan harus dihentikan apabila API mencapai 200 atau lebih, yang masuk kategori sangat tidak sehat.
BACA JUGA:Patroli Gabungan di Kecamatan Teluk Gelam OKI Guna Pencegahan Karhutla
Kabut asap lintas negara sendiri bukan persoalan baru di Asia Tenggara. Masalah tersebut telah berlangsung sejak 1970-an, dengan krisis terparah terjadi pada 1997-1998 dan 2015.
Indonesia, Malaysia, dan Singapura sebelumnya telah berupaya menangani persoalan tersebut melalui kerja sama ASEAN, termasuk Regional Haze Action Plan 1997. Namun, upaya regional menghadapi tantangan berupa lemahnya penegakan serta prinsip non-intervensi ASEAN terhadap urusan dalam negeri negara anggota. (dri)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
