Cek,5 Mitos tentang LASIK yang Masih Sering Dipercaya

Kamis 05-11-2026,07:22 WIB
Reporter : Wiwik
Editor : Wiwik

SUMEKS.CO - LASIK adalah prosedur koreksi refraksi dengan sinar laser untuk mengurangi ketergantungan pada kacamata atau lensa kontak.

Dokter membuat flap tipis pada kornea memakai mikrokeratom atau laser femtosecond, lalu laser excimer membentuk ulang jaringan kornea guna memperbaiki minus, plus, maupun silinder. Setelah permukaan kornea dibentuk, flap dikembalikan ke posisi semula.  

Informasi keliru seputar keamanan prosedur ini masih sering beredar, padahal tingkat kepuasan pasien mencapai 96 persen hingga 98,7 persen pada bulan ketiga pascatindakan.

Oleh karena itu Memahami fakta medis membantu Anda menentukan langkah yang tepat bagi kondisi penglihatan sendiri.

BACA JUGA:Mengenal Manfaat Buah Pisang untuk Kesehatan, dari Sumber Energi hingga Menjaga Pencernaan

BACA JUGA:5 Manfaat Ubi Yakon bagi Kesehatan, Kaya Prebiotik dan Berpotensi Bantu Jaga Gula Darah

Keraguan pasien umumnya berpusat pada tingkat keamanan tindakan, kriteria kelayakan, rasa sakit selama operasi, risiko mata kering, hingga ketahanan hasil penglihatan dalam jangka panjang.  

Ingin tahu lebih lanjut tentang mitos LASIK yang masih sering dipercaya? Berikut penjelasannya.  

1. LASIK Menyebabkan Kebutaan 

Kekhawatiran akan kehilangan penglihatan sering kali menjadi alasan utama seseorang ragu menjalani koreksi laser. Hingga kini, tidak ada catatan kasus kebutaan yang murni disebabkan oleh prosedur LASIK standar.

BACA JUGA:Mengenal 5 Manfaat Madu untuk Kesehatan, dari Meredakan Batuk hingga Sumber Antioksidan

BACA JUGA:Sinergi Edukasi dan Ruang Hijau, BPJS Kesehatan Resmikan Taman Gotong Royong di Unsri

Tingkat komplikasi operasi mata ini terus menurun berkat pembaruan teknologi laser serta seleksi pasien yang jauh lebih ketat di ruang periksa.  

Efek samping yang tergolong wajar meliputi mata terasa kering, silau atau glare, pendaran cahaya (halo), serta kilatan sinar (starburst) pada malam hari, sementara infeksi maupun komplikasi pada flap tergolong amat langka.  

Risiko gangguan penglihatan berat justru lebih kerap dipicu oleh infeksi akibat pemakaian lensa kontak yang kurang higienis, seperti abrasi kornea serta infeksi mikrobial.  

Kategori :