Maka, barangkali sudah waktunya kita berhenti mempertentangkan ijazah dengan kecerdasan, sekolah dengan pengalaman, atau pendidikan dengan kebijaksanaan. Sebab, semua itu bisa saling melengkapi.
Dan jika kita masih ingin memperdebatkan kalimat bahwa ijazah hanyalah tanda seseorang pernah sekolah, mungkin ada satu pertanyaan yang lebih layak direnungkan:
Jika ijazah saja dianggap tidak penting karena tidak menjamin seseorang mampu berpikir, apakah kita juga akan menganggap pengetahuan tidak penting hanya karena orang berpengetahuan pun bisa melakukan kesalahan?
Jangan-jangan, yang sedang kita saksikan bukanlah kemenangan filsafat atas pendidikan. Melainkan kemenangan retorika atas logika.
Dan ketika retorika mulai menggantikan pengetahuan dalam mengelola negara, yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar selembar ijazah. Melainkan masa depan sebuah bangsa.