Saya sendiri sebenarnya pasrah saja kalau harus memulai lagi SMA dari kelas 10 di Indonesia.
Tapi Abah saya benar-benar bertekad bahwa saya tidak boleh di Indonesia. Keluarga kami masih belum aman.
Harus cari cara. Entah bagaimana.
Keluarga kami memang tidak hidup susah. Kerja keras Abah membuat keluarga kami makin tahun makin mampu. Tapi waktu itu masih jauh dari kaya raya.
Saya harus berangkat lagi ke Amerika, cari sekolah lagi entah bagaimana caranya.
Ada kenalan Abah yang anaknya sekolah di Sacramento, ibu kota California. Jadi saya disuruh berangkat ke sana.
Di usia 17 tahun, tanpa bantuan siapa-siapa, saya harus cari sekolah. Anak kenalan Abah itu hanya menjemput saya dari bandara, membantu menemukan apartemen, setelah itu tidak pernah kelihatan lagi. Wkwkwkwk...
Saya tinggal di apartemen sendirian. Apartemen kosong melompong. Hanya ada matras kasur tanpa sprei.
Seminggu kemudian baru saya beli sebuah TV kecil. Belum ada internet, belum ada handphone. Menelepon ke Indonesia mahal luar biasa. Karena belum punya teman, saya sering sekali ngobrol dengan diri sendiri, wkwkwk...
Saya datang ke departemen pendidikan di Sacramento, minta arahan harus bagaimana untuk melanjutkan sekolah. Tentu saja jawabannya sulit.
Saya bukan penduduk California, apalagi warga negara, dan tidak punya orang tua atau wali di sana. Jadi saya tidak akan bisa menikmati fasilitas SMA gratis di sekolah negeri (public school).
Saya juga tidak berhasil menemukan SMA swasta yang mau menerima siswa internasional.
Apalagi saya juga masih usia 17 tahun, tanpa wali dan orang tua. Sekali lagi, waktu itu belum ada internet. Cari sekolah harus lewat informasi manual, dan harus datangi satu-satu.
Tapi ini hebatnya departemen pendidikan di Sacramento itu. Mereka tidak membiarkan saya begitu saja.
Mereka mencarikan jalan keluar. Karena ada kebijakan di sana, anak tidak boleh kehilangan hak mendapatkan pendidikan. Walau saya bukan warga negara, mereka tetap menggunakan prinsip itu untuk membantu sebisa mungkin.
Melihat nilai saya waktu di Kansas bagus, mereka meminta saya mengambil tes assessment lagi. Kali ini tingkat universitas. Ternyata saya lolos lagi.