Banner Pemprov

Saya Tidak Lulus SMA (Seri 3), Tapi Akhirnya Bisa Kuliah di Amerika

Saya Tidak Lulus SMA (Seri 3), Tapi Akhirnya Bisa Kuliah di Amerika

Dari Tidak Lulus SMA hingga Masuk Sacramento City College--

Perjalanan SMA saya berakhir pada Juli 1994. Saat pulang ke Indonesia.

Dari 80 anak Indonesia yang berangkat jadi siswa pertukaran, memang tidak semuanya menuntaskan program sampai akhir.

Salah satu yang tidak tuntas sama-sama sekolah di Kansas. Di kota yang berbeda, sekitar lima jam naik mobil dari kota saya.

Cewek asal Jakarta itu rupanya sempat merasa sangat homesick. Seorang koordinator program sempat menitipkan dia di rumah John Mohn selama satu weekend, supaya dia bisa ketemu teman orang Indonesia lain (saya).

Walau waktu itu sepertinya baik-baik saja. Tidak lama kemudian saya mendapat kabar kalau dia terpaksa dipulangkan ke Indonesia sebelum waktunya.

Setiap anak pasti punya cerita yang berbeda. Setiap anak bisa mendapatkan dampak yang berbeda.

Sampai hari ini saya selalu bersyukur. Pengalaman SMA di Ellinwood itu adalah satu tahun yang paling menakjubkan dalam hidup saya. Bahkan mungkin paling menentukan arah hidup saya.

Seperti kutipan pendiri Apple, Steve Jobs, tentang connecting the dots: "Kita tidak bisa menyambung titik-titik (kehidupan) ke depan. Kita hanya bisa melihat titik-titik itu tersambung ketika melihat ke belakang. Kita hanya harus percaya bahwa titik-titik itu akan menyambung sendiri di masa depan".

BACA JUGA:Saya Tidak Lulus SMA (Seri 1): Kisah Azrul Ananda Berangkat ke Amerika di Usia 16 Tahun

BACA JUGA:Saya Tidak Lulus SMA (Seri 2): Setahun di Kansas, Awal Mula Benih DBL

Sederhananya: Jalani saja hidup sebaik mungkin, hasilnya akan menyambung sendiri di kemudian hari.

Waktu saya pulang, status saya tidak jelas. Kalau masuk SMA di Indonesia, saya harus mengulang lagi dari kelas 10. Itu berarti ketinggalan setahun dari teman-teman SMP saya dulu.

Banyak teman-teman pertukaran pelajar yang mau tak mau harus menjalani itu. Mengulang lagi pelajaran setahun di Indonesia. Rugi? Tergantung sudut pandang.

Mungkin ada yang bilang rugi nambah SMA setahun. Tapi menurut saya pribadi, pengalaman setahun jadi siswa pertukaran di tempat-tempat "ajaib" adalah pengalaman tak ternilai dan tak tergantikan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: