PALEMBANG, sumeks.co- Sebanyak 48 eks anggota Jamaah Islamiyah (JI) di Sumatera Selatan mengikuti seminar transformasi ideologi bertajuk “Jalan Menuju Wasathiyah, Membangun Kesadaran Baru Ideologi Sehat dan Moderat” di Fave Hotel Palembang, Rabu (16 September 2026).
Kegiatan yang digelar Densus 88 Antiteror Polri bersama Yayasan Prasasti Perdamaian tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pemahaman keagamaan yang moderat, toleran, damai, sekaligus memperkuat nilai kebangsaan.
Seminar membahas pentingnya transformasi pemahaman ideologi dengan menekankan nilai wasathiyah, toleransi, penghormatan terhadap keberagaman, serta penerimaan terhadap Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kegiatan dipimpin Kasatgaswil Sumsel Densus 88 AT Kombes Pol Beni Kusworo, S.I.K., M.H., bersama jajaran Satgaswil.
Sejumlah tokoh turut menghadiri kegiatan tersebut, antara lain Kakanwil Kemenag Sumsel Dr. Syafitri Irwan, S.Ag., M.Pd.I., Dir Intelkam Polda Sumsel Kombes Pol Tony Budhi Susetyo, S.I.K., M.H., Sekretaris PWNU Sumsel Ir. Achmad Syaifudin Zuber, Ketua FKPT Sumsel Drs. H. M. Yamin, M.Si., Kaban Kesbangpol Sumsel Drs. H. Arinarsa JS, perwakilan Baznas Provinsi dan Kota Palembang, serta Kasat Intelkam Polrestabes Palembang.
BACA JUGA:CATAT, Bendera One Piece Bukan Ancaman, Pejabat Korup Itu Bahaya Buat NKRI
BACA JUGA:Bukan Cuma Uang! BI Ungkap Peran Besar Rupiah sebagai Penggerak Ekonomi dan Simbol Kedaulatan NKRI
48 Eks Anggota JI dari Palembang dan OKI
Peserta seminar terdiri dari 29 eks anggota JI asal Kota Palembang dan 19 eks anggota JI dari Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
Tiga narasumber dari Rumah Wasathiyah dihadirkan dalam kegiatan tersebut, yakni Ust. Para Wijayanto, Ust. Choirul Anam alias Bravo, dan Ust. Suhardi alias Abu Hasan.
Acara diawali pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, doa untuk negeri, menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan Kasatgaswil Sumsel dan Kakanwil Kemenag Sumsel, serta pemutaran film refleksi satu tahun pembubaran Jamaah Islamiyah.
Ilmu Jadi Fondasi Transformasi Ideologi
Dalam sesi muqaddimah, Ust. Suhardi alias Abu Hasan menekankan pentingnya ilmu dalam proses perubahan pemahaman.
Menurut dia, istiqamah tidak hanya berarti mempertahankan pendirian, tetapi juga kesiapan untuk kembali kepada kebenaran berdasarkan dalil dan ilmu.
“Kembali kepada kebenaran jauh lebih utama daripada terus-menerus berada dalam kesalahan. Tidak ada ruang untuk gengsi dalam mengoreksi diri ketika kebenaran telah terbukti.”