SUMEKS.CO,- Kabut asap dan abu vulkanik sama-sama dapat membuat udara menjadi tidak sehat, mengurangi jarak pandang, serta menimbulkan gangguan pada sistem pernapasan.
Meski sekilas terlihat serupa karena sama-sama membuat udara dipenuhi partikel, keduanya sebenarnya memiliki sumber dan karakteristik yang berbeda.
Perbedaan tersebut penting diketahui masyarakat, terutama ketika berada di wilayah yang sedang menghadapi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) atau terdampak erupsi gunung api.
Kabut asap umumnya terbentuk dari proses pembakaran, terutama akibat kebakaran hutan dan lahan.
BACA JUGA:5 Tips Memilih Masker yang Tepat untuk Melindungi Pernapasan dari Abu Vulkanik dan Polusi Udara
BACA JUGA:Terdampak Abu Vulkanik Gunung Dukono, 3 WNA Singapura Berhasil Dievakuasi, ini Kondisinya
Asap yang dihasilkan tidak hanya berupa udara berbau hangus, tetapi merupakan campuran berbagai gas dan partikel hasil pembakaran.
Salah satu komponen yang menjadi perhatian dalam kabut asap, seperti dirangkum dari berbagai sumber Rabu 9 September 2026 adalah partikel halus PM2.5.
Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel tersebut masuk jauh ke dalam sistem pernapasan ketika terhirup.
Paparan kabut asap dalam waktu tertentu dapat menyebabkan mata terasa perih, hidung dan tenggorokan mengalami iritasi, batuk, serta membuat napas terasa tidak nyaman.
Pada orang yang memiliki gangguan pernapasan, paparan polusi udara yang tinggi juga dapat memperburuk kondisi yang sudah ada.
Sementara itu, abu vulkanik memiliki sumber yang berbeda. Material ini berasal dari aktivitas gunung api ketika terjadi erupsi.
BACA JUGA:Sempat Ditutup Akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau, Bandara Soetta Kembali Beroperasi
BACA JUGA:Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyebar Sampai Sejauh Mana? ini Penjelasan BMKG
Saat letusan berlangsung, batuan dan mineral dari dalam gunung dapat terpecah menjadi partikel sangat kecil yang kemudian terbawa angin dan jatuh ke wilayah di sekitar gunung.